Minggu, 11 September 2011

CINTA PERLU WAKTU

CINTA PERLU WAKTU
Kurniawan Junaedhie

Menyebalkan, keluh Layla. Dengan kesal ia masuk ke dalam kamar kosnya. Di mobil jemputan, seperti biasa, ia mengintip Facebook dari Blackberrynya. Hm, untuk kesekian kalinya ia mendapat kiriman puisi dari Octa di Fesbuknya. Sesungguhnya anak itu memang punya bakat jadi penyair. Tampangnya saja yang serem, tapi sesungguhnya hatinya mellow. Jelas, puisinya tidak sebagus Chairil Anwar, tapi tidak jeleklah. Layla juga menyukainya. Romantis. Kocak. Atau romantik dan kocak campur jadi satu.

Yang membuatnya agak tidak enak, hanya satu: puisi Octa selalu muncul di Facebook dan memberi kesan pada dunia, itu ditujukan pada dirinya Akibatnya, hubungan Layla dan Octa jadi tersiar luas seolah-olah di antara mereka terjadi hubungan asmara. Buktinya, tahu-tahu si Dude, anak tante kos yang biasanya bertindak sopan, dan beradab tiba-tiba berubah menjadi kepo. Kalau Octa datang, dia bilang, “Tuh, cowok lu datang.” (Hehe, tidak sopan sama sekali, pake elu, pula). Setelah itu, beberapa kali Si Dude kepo itu juga selalu lapor bila Octa menulis puisi atau status, seolah-olah hanya dia yang membaca fesbuk. “Dia semakin termehek-mehek tuh!”

Dan yang bikin kesal, si Dude itu hari itu bilang secara nyinyir.

“Duh, luar biasa ya? Baru saja berpisah beberapa menit, dia sudah menulis kata-kata puitis. Metafor-metafornya asyik,” katanya seperti kritikus sastra. Bulu roma Layla langsung berdiri. Darah naik di kepala. Kalau bukan Dude, yang anak tante kos saja, hm, sudah gue keplak tuh anak, sungut Layla sambil melempar sepatu di kolong.

Tapi, bener juga sih. Octa sendiri memang edan, pikirnya sambil melepas kaos kaki seragam sekolah. Kalau Octa tidak menulis menulis puisi di FB secara bertubi-tubi saja mungkin Si Dude tak perlu berubah dari beradab menjadi kepo. Dan si Dude tetap akan jadi anak manis.

“Plissss, Octa, bukankah kamu bisa kirim puisi-puisimu melalui Direct Message?” katanya kemarin waktu berpapasan di kantin sekolah.

Dasar Octa. Anak pengusaha batubara itu hanya mendengus, pertanda ia tak sudi diperintah Layla. Tapi itu memang haknya. Octa toh bukan apa-apanya. Benar, Octa pernah nembak Layla, tapi Layla sudah mengatakan baik-baik bahwa bukannya dia tidak suka pada Octa tapi karena ia masih suka berteman dengan semua orang.

Meski agak kecewa, Octa harus menerima kenyataan.

“Kukira, memang sebaiknya begitu. Just a friend,” katanya mencoba bersikap ksatria.

Sebagai sekadar teman, dia toh sesungguhnya tetap punya hak privelige yakni bisa mengajak Layla ke mana saja. Paling tidak, Octa adalah salah satu teman cowoknya yang paling dikenal orangtuanya, sehingga dipercaya nonton konser bareng, atau menjemput Layla kalau ada teman ulangtahun.

Tapi entah kenapa, belakangan kelakuan Octa mulai kelewatan. Dia suka menulis puisi di wall-nya dengan ucapan-ucapan yang berlebihan. Boleh jadi itu ekspresi pribadinya. Octa yang berhati mellow dan berbakat jadi penyair itu mungkin saja sedang pamer kehebatannya menulis puisi padanya. Tapi, celakanya, makin ke sini, seluruh dunia rasanya tahu, bahwa isi puisinya tak lebih tak kurang memang ungkapan perasaannya terhadap Layla.

Pernah, ia berniat memblokir akun FB Octa itu. Dengan cara itu Layla berharap kesan bahwa mereka ada hubungan menjadi hilang. Tapi tiba-tiba saja, niat yang hebat itu surut. Bagaimana kalau Octa cowok yang penuh perhatian itu marah? Bagaimana kalau hubungan mereka putus begitu saja dengan kesan tidak terpuji? Bagaimana kalau tiba-tiba anak itu ngambek tidak mau menjemput atau mengantar pulang dengan mobilnya? Bagaimana kalau Octa menuduhnya sebagai cewek sombong, angkuh, sok, dan lain-lain padahal ia paling alergi disebut cewek begituan? Tidak pusing kalau hanya itu. Tapi kalau Octa yang memang ngebet itu lalu broken heart, dan kemudian bunuh diri, nyemplung ke sumur tua dekat sekolah atau nabrak busway, bagaimana? Itu ejekan Betsyiela, adik Layla yang baru duduk di kelas dua SMP. Tapi yang paling sulit dibantah adalah provokasi Adinda Rana, kakak perempuannya, yang seolah-olah memberi support atas tembak-tembakan Octa di Fesbuk itu.

“Sekedar menjaga perasaan eh tali silaturakhmi, apa salahnya?” kata Adinda.

Untung saja, Jeremy, pacarnya tinggal di Paris, dan tak suka main Fesbuk, hanya main twitter. Coba kalau Jeremy sampai tau? Duh.

Toh suatu kali niatan untuk memblokir akun Fesbuk Octa tak terbendung. Dengan mengucap Salam Maria tiga kali, ia nekad mengklik tombol blokir. Itu artinya, dia tidak akan bisa melihat apa saja yang dilakukan oleh Octa dan sebaliknya Octa juga tidak bisa melihat apa yang dilakukan Layla. “Sudah tidak ada gunanya. Dia mau jungkir balik, kek, aku sudah gak perduli. Kita putus hubungan,” kata Layla dalam hati.

Sekitar lima menit setelah itu, telepon genggamnya berdering-dering.

“Gila. Kamu blokir aku ya? Apa salahku? Apa dosaku? Gila banget kamu. Tega-teganya,” kata Octa seperti lipan kepanasan.

“No way!” kata Layla mematikan telepon genggamnya.

Telepon bordering-dering lagi.

“Kalau kamu tetap blokir, aku tak sudi bertemu kamu,” ancamnya.

“Gak takut.” Handphone dibanting.

Telepon berdering-dering lagi. Layla menyambar handuk, dan cuci muka di kamar mandi. Keluar dari kamar mandi, Si Dude mengetuk pintu kamar. Layla sudah siap menggampar.
“Sabar. Cowokmu datang tuh. Kayaknya marah besar,” kata si Dude mengangkat kedua tangannya, lalu berlalu.

Octa duduk di ruang tamu dengan sikap jagoan kalah perang.

“Apa maumu?” tanya Layla.

“Aku minta ampun,” katanya terbantun-bantun.

Hm. Layla menatap matanya. Kasian juga, pikirnya. Sesungguhnya ia makhluk tak berdosa, hanya ia tak tahu apa yang diperbuatnya, pikirnya.

“Mana laptopmu?”

Octa berlari ke mobilnya, dan sejurus kemudian menenteng laptopnya.

“Oke, Octa, aku sudah batalkan pemblokiran akunmu. Kuharap, kamu penuhi janjimu untuk tidak menulis di statusku secara kampungan,” kata Layla.

Sejak itu Layla meneruskan hubungan pertemanan. Tentu saja dengan perasaan ngeri, hati-hati dan tidak lebay. Pendeknya ia tidak mau kalimat-kalimatnya disalah-tafsirkan seenaknya oleh Octa. Karena itu, demi hubungan baik, paling banter Layla hanya menceritakan kesibukan di sekolah, atau si Irene yang liburan ke Bali, atau tentang resto baru. Dan Layla sama sekali menghindari pembicaraan yang bersahut-sahutan. Pokoknya Layla tidak ingin cowok itu terbuai dalam mimpi hanya karena telah menanfsir secara keliru atas komentar-komentarnya.
Entah karena memang tak tahu diri atau apa, dua hari kemudian, penyakit Octa kambuh. Ia menulis status ugal-ugalan lagi di wall Layla.

Layla langsung mengangkat handphone. Tapi belum saja ia membuka mulut, dari seberang sana, Octa sudah menyela.

“Kamu tidak suka ya?” tanyanya.

“Baiklah, kalau kamu tidak suka, akan segera kudelete,” jawab Octa dari sana marah.

“Octa…,” Layla mendengus. Ia sangat heran, mengapa cowok diciptakan Tuhan menjadi mahluk yang licik dan penuh tipu muslihat?

Esoknya, Layla memutuskan untuk menemui Octa.

“Aku ingin tahu apa maumu,”tanyanya.

Anak itu menggaruk-garuk kepalanya.

“Aku tidak mengerti pertanyaanmu,” jawabnya membuat Layla jengkel.

Layla mengulang pertanyaannya.

“Di antara kita tidak ada apa-apa kan?”

Octa menatap matanya,

Layla mengulang lagi ucapannya.

“Memang tidak ada apa-apa. Just a friend,” Octa bergumam.

“Yups. Benar. Karena itu kuminta…,” kata Layla.

“Kamu meminta apa?”

“Aku belum selesai mengatakannya.”

“Oh ya?”

“Karena itu kuminta kamu tidak terlalu sering mengirimkan puisi-puisimu untukku.”

“Jadi kamu tidak suka?”

“Aduh, Octa, sudah pernah kubilang berkali-kali: I like it. Puisimu bagus. Yang tidak kusuka adalah…”

Octa berdiri, dan berlalu.

Que sera sera. Ia memang sudah memutuskan untuk bersikap cuek bebek. Ia sudah memutuskan bahwa cowok itu memang gila. Senewen. Sinting dan lain sebagainya. Bahwa cowok itu memang tak tahu adat, tak tahu diri, dan lain sebagainya. Ia juga memutuskan, ia tidak akan melakukan apa pun! Dengan demikian semua akan tahu, bahwa hubungannya dengan anak pengusaha batu bara yang tak tahu adat itu hanya sementara. Hanya sekedar pengisi waktu. Bukan sebagai piala tempatnya berkeluh kesah, atau mengutarakan impian-impiannya yang selangit atau mengutarakan gagasan-gagasannya yang kadang-kadang dan selalu utopia. Kalau pun itu dianggap pernah ada, itu bukan piala, tapi tong sampah atau asbak rokok! Hanya itu. Biar cowok itu tahu bahwa dia sangat serius atas ucapannya. Biar dia patah hati saja, kalau Betsyiela adiknya benar. Atau nyemplung ke sumur sekolah dan mampus!

Malamnya Layla tidak bisa tidur. Dia merasa bersalah karena telah mengatakan hal yang tak sepantasnya. Meski demikian ia yakin bahwa tindakannya benar. Octa memang harus diberi pelajaran. Sebab kalau tidak, perilakunya itu lama-lama akan mencemarkan nama baiknya.
Hanya tampaknya tujuannya untuk menemukan kebaikan tidak tepat ke sasaran. Buktinya, esoknya, di sekolah, tumben-tumbenan, cowok berhati mellow itu tak kelihatan batang hidungnya. Boro-boro menemuinya seperti biasa. Kejutan berikutnya: hari itu tak ada puisi-puisi Octa yang menghiasi wall Fesbuknya. Dan hari itu juga, ia tidak mengirim pesan singkat sepatah kata pun.

Hm, hari yang aneh, gumam Layla di kamarnya, sambil merebahkan badannya menatap langit-langit. Keringat dingin mengucur tak disengaja. Ia merasa tidak nafsu makan. Ah, andaikan Jeremy ada di sini, gumamnya, sambil melihat foto Jeremy di mejanya. Kalau mau jujur, hubungan dengan Jeremmy sudah berakhir sebetulnya. Sejak dia ke Paris, Layla memang sudah mengambil putusan: hubungan mereka sudah tak memiliki hari depan. Jeremmy juga tampaknya bisa memahami. Hanya, sialnya, dia over protetictive. Masih suka mengatur-atur bila Layla dinilai punya hubungan khusus dengan seseorang. Padahal, apa sih urusannya?

“Hidupku adalah hidupku, hidupmu adalah hidupmu,” kata Layla. Hm. Jadi buat apa andai Jeremmy ada di sini, sekarang, melihat hubungan aneh di antara Layla dan Octa? Nothing!

Dia melirik handphonenya. Layar tetap kosong Tak ada pesan singkat dari siapa pun. Juga dari Octa. Esoknya ia mendapat berita mengejutkan.

“Aku dengar kabar tak mengenakkan, penyairmu masuk rumahsakit. Benar?” tanya Dude Kepo ketika ia keluar makan malam.

“Jangan sotoy. Tahu darimana?”

“Tau saja. Dia kan celeb di fesbuk. Aku baca status orang. Dia sakit tipus,” jawab Dude dengan gaya sok kepo. “Kayaknya serius.”

Astaga. Peluh bercucuran. Layla menatap mata Dude.

“Antar aku ke rumahsakit.”

***

Tampang Octa pucat seperti kertas tisyu. Badannya terbaring lemah takberdaya. Dia kaget melihat Layla membezuknya.

“Ya Tuhan, ternyata kamu daytang, Kupikir…..” kata Octa.

“Psttt, “ Layla memberi isyarat agar Octa tetap dalam posisinya, berbaring.

“Octa,” kata Layla berbisik. “Aku minta maaf. Aku tahu kamu sakit karena aku.”

“Ah ini bukan salahmu,” kata Octa cepat dengan menahan pilu. “Aku saja yang salah karena terlalu menentingkan perasaanku sendiri.” Ia diam sejurus. “Tapi aku janji akan menghapuskan semua perasaanku pada kamu.”

Layla menatap mata Octa.

“Tidak. Itu tidak benar, Octa,” jawab Layla. “Asal kamu tau ya, sebenarya aku sayang sama kamu. Hanya aku perlu waktu.”

“Jadi ….?”

“Ya, love takes time.” Layla tersenyum.

Mata Octa tampak berbinar.

“Ya, aku tahu.”

“Tapi selama menunggu itu, maukah kamu mengajari aku menulis puisi?”

“Tentu saja,” Octa cepat-cepat mengangguk. “Dan mudah-mudahan kamu juga kamu mau bersabar.”

Rasanya Layla ingin memeluk rembulan.***

Sukabumi, 27 Juni 2011

dimuat di majalah story 25 juli 2011

SANG PENGELANA

SANG PENGELANA
Cerpen: Kurniawan Junaedhie

Tak ada yang terus
bisa berlangsung. Tak ada kepastian yang bertahan
Kita telah kehilangan kepercayan kepada keabadian
Semua hanya sementara: cinta kita, kesetiaan kita.
Kita hidup di tengah kesementaraan segala.

Saya menjatuhkan talak tiga pada istri. Istri pasrah, tenang dan tidak mengajukan banding. Dia malah menyalami saya sembari mengucapkan, Alhamdulillah. Dari kantor pengadilan, saya mengantar istri ke rumah orangtuanya. Saya menyalami ayah dan ibunya, minta maaf sekaligus pamitan. Di pintu, ketika saya mau pulang, perempuan yang sekarang jadi bekas istri saya itu berlari menyusul, sekadar untuk mencium tangan saya. Dia minta maaf jika ada kesalahan. Saya jawab, sebaliknya saya juga minta maaf. Dia menangis. Tapi hati saya tenang. Kami bercerai, tanpa beban. Lebih dari itu, Tuhan Maha Besar, kami tidak dikaruniai anak sehingga perceraian tidak membawa beban. Saya pun teringat sajak Sapardi Djoko Damono: anak tanda kita pernah bercinta. Dan, kami ternyata tidak pernah sungguh-sungguh bercinta.

Sekarang saya berada di dalam mobil. Saya akan pergi sejauh-jauh mobil saya menggelindingkan rodanya. Wah saya benar-benar menikmati kemerdekaan hidup tanpa keterikatan. Tak ada lagi seorang perempuan yang saya panggil istri yang saya harus pamiti jika saya pergi. Saya juga tidak perlu diganggu dering telepon atau bunyi nada panggil SMS di perjalanan, yang hanya mengajukan pertanyaan: kamu sudah sampai di mana, sedang apa, atau bagaimana.

“Apakah kamu tidak percaya padaku dengan sibuk bertanya-tanya?” tanya saya sangat marah suatu kali.

Istri tidak menyahut, tapi masuk ke kamar ibu saya dan menangis. Ibu keluar kamar menjelaskan, begitulah cara perempuan memberi perhatian pada suaminya. Tapi bagi saya, perempuan memang aneh. Bukankah sudah sangat jelas, bahwa perhatian yang diberikannya itu tidak sepatutnya sehingga saya merasa terganggu?

Saya masuk tol. Karena jalan tol sepi, saya geber gas sekenanya. Mobil melaju kencang dalam kecepatan 100 kilometer per jam. Keasyikan pelan-pelan mulai merasuki jiwa ragaku. Sambil menginjak gas, saya melihat angka di speedometer merangkak naik. 110, 120 dan 140 kilometer. Satu demi satu mobil, truk, truk gandeng, bis, dan sepeda motor saya lampaui. Duh saya benar-benar menikmati kemerdekaan hidup tanpa keterikatan. Saya sekarang hanya membayangkan, akan menghadapi hari-hari yang akan datang tanpa pertengkaran dan hidup damai tanpa seorang perempuan yang saya sebut istri dalam sebuah rumah. Ini bukan perkara gampang. Yang saya punya dari 10 tahun perkawinan, hanyalah kenangan. Kenangan adalah satu-satunya anugerah dari Tuhan yang tidak bisa direnggut meskipun oleh maut, begitu kata Kahlil Gibran. Tapi saya masih bisa berbuat apa saja terhadap kenangan: melupakannya sama sekali, atau mengingatnya berulang-ulang. Dan itu soal gampang.

Sambil menginjak gas, saya melihat angka di speedometer terus merangkak naik. 110, 120, 140 dan 160 kilometer. Gas saya geber. Mobil mulai oleng tertiup angin. Saya mencoba kuasai keadaan. Dalam keadaan itu, saya masih berpikir waras. Saya pegang kemudi erat-erat. Dugaan saya, mobil yang oleng itu, terjadi karena angin kencang menerpa keempat ban mobil saya. Seperti orang yang berjalan dengan kaki yang terpiyuh-piyuh oleh angin, otomatis jalannya pun pincang. Begitu pula dengan mobil saya.

“Kamu akan mati konyol,” tiba-tiba ada suara. Saya kaget. Mata saya terbeliak.

“Mati?”

Saya melirik kaca spion. Tak ada siapa-siapa di samping atau di jok belakang. Di kaca belakang, hanya tampak beberapa truk yang terseok-seok saya salip. Saya kurangi gas, dan mencoba mengamati suara itu lebih dekat. Suara itu mendesing.
“Saya boleh mati, tapi tidak sekarang,” teriakku. “Umurku baru 50 tahun. Selama ini aku sehat walafiat. Hasil check up terakhir menunjukkan aku baik-baik saja. Tidak ada satu pun penyakit mendekam dalam tubuh saya. Tidak ada alasan bagi Yang Maha Kuasa mencabut nyawaku.”

Aku melirik spion. Kubuka kaca jendela.

“Aku mau menikmati hidup!” teriakku kencang-kencang pada angin yang bersirobok masuk ke kabin mobil.

Mobil makin oleng. Mungkin saja, penyebabnya, angin yang terkejut oleh teriakanku kemudian menambah oleng mobilku. Tapi bisa jadi juga karena pikiran saya yang mulai limbung. Saya melihat angka di speedometer terus merangkak naik. 110, 120, 140, 160 dan 200 kilometer. Betapa pun saya tak boleh kalah dengan keadaan ini, kata saya. Ini baru di darat. Bagaimana kalau saya jadi pilot, yang mengendarai kendaraan di langit? Bagaimana kalau di laut? Di tengah samudera maha luas tak bertepi? Apakah saya harus menyerah dengan keadaan? Benar, di mobil ini saya seorang diri, tak perlu menyelamatkan jiwa-jiwa lain, tapi paling tidak, saya juga harus mampu menyelamatkan diri sendiri, begitu pikir saya.

Mobil mulai berjalan sempoyongan seperti orang mabuk. Karena saya tidak mau berhenti di pinggir jalan, saya arahkan moncong mobil masuk ke rest area. Di rest area, aku masuk ke WC. Buang air kecil. Seorang pengemis menadahkan tangan. Aku rogoh kantong dan setelah memberinya limaratus perak aku cepat berlalu. Aku masuk ke Mac Donald. Aku pilih duduk di pojok, tempat paling sepi, yang tak bertanda dilarang merokok. Orang zaman sekarang rupanya lebih suka duduk di tempat yang berpendingin dan bebas asap rokok. Aku keluarkan I-pad. Aku mencari game. Iseng. Aku ambil rokok. Pelayan menghampiri. Aku pesan Capucino. Tak ada game yang menarik. Semua bosan. Aku mencoba buka Facebook. Ah bosan juga. Banyak orang memposting sampah, yang tidak perlu saya komentari sama sekali. Saya buka Twitter. Saya isi status iseng, mengutip kata preambule konstitusi negara: “Kemerdekaan adalah hak segala bangsa…..” Capucino datang. Sekelompok orang yang duduk di tempat berpendingin terdengar bersorak-sorak. Sebagian lain bertepuk tangan menonton siaran ulangan pertandingan tinju di televisi. Tampak Mike Tyson menjotos muka lawannya, sampai bonyok. Di sudut lain, sejumlah pengunjung sedang menonton infotainment yang memberitakan perancang busana terkenal ibukota yang diam-diam sudah menikah dengan bekas seorang menteri tapi diduga hanya ingin menguras hartanya.

Aku mengambil rokok. Ketika rokok kupasang di mulut, tiba-tiba ada geretan menyala persis di ujung rokokku. Seorang menyulurkan geretan itu. Aku berhenti. Menoleh ke arah pemilik geretan. Seorang lelaki tua duduk di samping saya.

“Apa yang kamu cari?” kata orang tua itu.

Aku terbatuk. Apa urusannya dia bertanya itu kepadaku? Dan, he, suara itu, sangat mirip dengan suara yang bertanya di antara kelebatan angin ketika aku menginjak gas di jalan tol? Saya tatap mata orangtua itu. “Siapa kamu?” tanya saya.

Asap rokok melayang, ditiup angin. Tapi mulut terasa garing. Orangtua itu menatapku lalu tiba-tiba sosoknya mengabut seperti asap, dan berpusing-pusing dalam asap rokokku. Kulihat, tempat duduk di sebelahku kosong. Sayup-sayup masih kudengar kata-kata itu.

“Kamu akan mati konyol.”

Wah, mati konyol seorang diri di dunia?

Aku teriak panggil pelayan, minta disediakan asbak. Begitu asbak datang, rokok kumatikan di situ. Aku tiba-tiba bergidik. Aku melihat tubuhku terkapar di jalanan. Orang-orang merubung. Beberapa yang sok pinter, mencoba mencari dompetku untuk mencari kartu identitasku. Mereka segera menemukan alamatku dan melapor ke polisi. Polisi lalu menghubungi alamat itu. Ternyata alamatku palsu.

“Mohon maaf, kami tidak mengenal bapak ini,” kata pak RT. “Coba cari SIM atau STNK mobilnya,” kata yang lain. “Hubungi alamat yang tertera di situ.”

Polisi langsung menghubungi alamat itu.

“Aduh, kami tidak mengenal orang ini.”

“Kalau begitu, kuburkan saja di makam umum untuk orang yang tak dikenal,” kata yang lain.

Begitulah, hari itu juga saya dimakamkan di TPU khusus untuk orang yang tak dikenal. Mobil saya diderek ke kantor polisi. SIM, STNK dan kunci mobil disita. Tapi mobil saya dibiarkan di parkir di halaman. Beberapa orang kulihat mencoba untuk membeli mobil itu, karena diduga harganya pasti murah. Tapi polisi tidak ada yang bisa memutuskan. Menjual mobil bekas tak bertuan tak menarik. Risikonya lebih tinggi, dibanding memperoleh uang dengan bermain mata. Akhirnya mobil itu tetap berada di halaman parkir, diguyur hujan. Dan berkarat.

Beberapa hari kemudian, seorang perempuan bercadar datang ke kantor polisi. Ia mengaku sebagai bekas istri saya dan menunjukkan bukti surat cerai. Kapolsek bingung. Mau diapakan surat cerai itu? Untuk apa?

“Saya hanya mau memastikan, benarkah mobil itu miliknya dan apakah juga benar dia yang telah dimakamkan di pemakaman umum itu…,” kata perempuan itu.

Karena terlalu banyak peristiwa terjadi, Kapolsek sudah tak ingat. Tapi saya masih ingat. Dari kantor pengadilan, saya mengantar dia ke rumah orangtuanya. Saya menyalami ayah dan ibunya, minta maaf sekaligus pamitan. Di pintu, ketika saya mau pulang, dia berlari menyusul saya, sekadar untuk mencium tangan saya. Dia minta maaf jika ada kesalahan. Saya jawab, sebaliknya saya juga minta maaf. Dia menangis.

Sekarang saya menangis, di alam baka. Menikmati kemerdekaan.***

Serpong, 1 April 2011


Kurniawan Junaedhie, tinggal di Serpong, Tangerang,. Banten. Menulis di media massa. Buku puisinya, al: Perempuan Dalam Secangkir Kopi (2010), 100 Haiku Untuk Sri Ratu (2010) dan Sepasang Bibir di dalam Cangkir (2011). Buku kumpulan cerpennya: Tukang Bunga & Burung Gagak (2010, bersama Kurnia Effendi, Ana Mustamin dan Agnes Majestika).

dimuat di jurnal nasional minggu 11 september 2011

.

.

Selasa, 01 Maret 2011

SUATU HARI, INGIN MENINGGALKAN SUSAN

Aku ingin meninggalkan Susan. Tidak untuk sementara, tapi untuk selama-lamanya. Ya, aku ingin kami berpisah, dan hidup dengan cara masing-masing. Tidak usah harus ke mana-mana berdua. Tidak usah saling cemburu. Karena hal itu sangat menyakitkan. Maka pagi itu, dengan mengendap-endap, aku keluar rumah, mendorong mobil keluar garasi, lalu wezzz, mobil kunyalakan, dan aku ngebut ke jalan raya menuju tol. Kutinggalkan Susan sendirian di rumah. Tapi di tengah perjalanan, perasaanku mulai tidak enak. Rasanya tidak fair jika tidak mengatakan sesuatu padanya. Mobil langsung kuarahkan ke rest area dan aku masuk ke sebuah resto. Sambil minum kopi, kukirim pesan singkat, “Susan, aku pergi. Good bye,” kataku.

Menurut taksiranku, pada pagi buta itu Susan masih tidur lelap. Tapi karena telepon genggamnya selalu ditaruh di bawah bantalnya, saat itu juga ia menjawab pesan singkatku.

“Apa maksudnya ‘goodbye’?”

Kujelaskan seperti niatku: aku akan pergi meninggalkan dia selama-lamanya. Kita berpisah. Karena untuk hidup bersama ternyata susah, meski kita saling mencintai. Padahal, begitu kataku, saling mencintai itu tidak cukup. Sedang untuk hidup bersama, adalah hal lain.

“Gila. Teganya, “ dia membalas. Dan beberapa detik kemudian, menyusul pesan berikutnya: “Oh oke. Silakan pergi. Selamat jalan. Terimakasih untuk segalanya.”

Tapi keputusanku sudah bulat. Jadi kujawab, aku memang serius, tidak main-main.

“Oke. Oke. Kamu sudah tahu akibatnya.”

Kujawab, aku ingin cari udara segar karena selama ini aku merasa ditimbun pekerjaan yang bertumpuk-tumpuk.

“Good. Good. Tak usah banyak mulut. Aku sudah menduga sejak lama. Kamu memang pengecut.”

Aku tulis, aku sudah tidak kuat dengan sikapnya yang terlau over protetive. Urusanku banyak tapi setiap hari aku harus direcoki oleh urusan-urusannya yang remeh-temeh.

“Forget it. Silakan pergi ke mana kamu suka. Kita putus. Aku sudah tak perduli lagi. Akhirnya Tuhan membuka mataku,” tulis Susan dari sana.

“Aku kira perpisahan ini memang jalan yang terbaik buat kita. Untuk kamu dan untuk aku,” tulisku sambil menghela nafas. Lama tak ada jawaban, sampai akhirnya muncul tulisan di layar I Phone-ku. “Goodbye.”


Akhirnya……. oh akhirnya…… Aku menarik nafas dalam-dalam. Aku termangu di pojok resto di rest area itu.

***

Pernah saya membaca cerpen berjudul “Suami Istri Bersumbu Pendek” di sebuah koran. Kupikir, seperti itulah kami berdua. Ibarat kompor, sumbu kami sangat pendek. Apapun masalahnya, intinya hanya satu: rasa cemburu. Kalau perasaan itu tidak kami kelola dengan baik, dengan cepat api dalam tabung minyak tanah akan naik menjalar sumbu yang segera berkobar menyebar ke mana-mana menyebabkan hati kami rasanya meledak dan tubuh kami terbakar hangus.


Semalam, sebelum aku akhirnya memutuskan untuk pergi, kami terlibat pertengkaran hebat. Selagi kami asyik chating-an, seseorang menulis komentar di halaman fesbukku. Seorang perempuan yang tidak kukenal meminta perkenalan. Dari foto yang tertera, tampaknya dia memang cukup cantik. Tahu-tahu, aku menerima caci makinya.


“Astaga. Aku ini salah apa? Aku kan belum menanggapi ajakan pertemanannya?”


“Aku hanya ingin tahu apa jawabmu terhadap sapaan wanita gatal itu?” kata Susan. Hadoh.


“Aku paling akan menjawab yang normatif, apa salahnya?”


“Uh, aku akan lihat. Kamu pasti akan mengungkapkan rasa senang karena perempuan cantik itu telah mengajakmu berkenalan.”


Karena Susan terus ngomel, aku mengalah. “Baik. Aku tidak akan menjawabnya sama sekali. Kalau perlu, aku langsung memblokir namanya. Asal kamu tahu aku tidak kenal perempuan itu,” jawabku.


“Uh. Aku akan lihat.”


“Lihat saja.”


Seperti biasa, persoalan kemudian melebar kemana-mana seperti tumpahan air gelas di meja. Atau minyak tanah yang menjalar ke sumbu. Menjalar ke mana-mana.


Di lain hari, persoalan meruncing hanya hara-gara seekor kucing. Aku menemukan seekor kucing di halaman minimart. Kucing itu aku bawa pulang, dan aku rawat. Tak nyana, dari hal sepele itu api neraka berkobar.


“Kamu rupanya ingin menyamai hobi bekas pacarmu, suka memelihara kucing.”


Hadoh, siapa bekas pacarku pun, aku tak ingat.


Susan berpangkutangan menatapku dengan wajah tetap tidak mau tahu.


“Sejak kapan kamu mencintai kucing? Aku tidak melihat track-record-mu sebagai penggemar kucing. Selama ini kamu bilang kamu sangat benci kucing karena binatang itu sangat celamitan. Binatang piaraan yang selama ini sering kamu ceritakan adalah anjing, ikan, burung, hamster, iguana, ular, kelinci………………...”


Aku menggigit bibir dan diam-diam mengepalkan tinju.


“Baik. Kalau itu maumu. Aku akan buang kucing itu,” kataku


Aku mencari kardus, dan kucing malang itu kumasukkan ke dalam kardus. Kardus berisi kucing itu aku berikan kepada sopirku yang katanya anaknya penggemar kucing. Dan aku segera melapor: “Aku sudah membuangnya di kali.”


Dia menangis dan mengatakan bahwa dia mencintaiku setengah mati. Sehingga dia tidak ingin aku menduakannya, bahkan dengan seekor kucing sekali pun. Dia minta maaf. Dia tidak berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya. “Aku terlalu mencintaimu, itulah kesalahanku,” kata Susan.


Seminggu berlalu dengan tenang. Kami pergi ke Puncak. Pergi ke Bandung. Menonton bioskop. Mengunjungi acara-acara kesenian. Tapi pada hari kedelapan, minyak tanah itu naik ke atas sumbu lagi. Gara-garanya dia meminjam telepon genggamku. Tanpa sengaja dia melihat ada nama asing –tentu saja perempuan--, langsung saja sumbu itu terbakar.


“Siapa dia?”


“Sudahlah. Aku akan hapus nama itu jika kamu tidak suka,” kataku sambil merebut handhopne dari tangannya.


Esoknya kami tertawa-tawa. Aku nulis puisi, dia memuji-muji puisiku. Hari berikutnya juga aman. Dia memberiku oleh-oleh kerupuk dari Magelang. “Ini kerupuk kualitas ekspor,” katanya. Aku coba mencicipi. Hm. “Enak ya?” kataku. Besoknya, aku mengajak di ketemu relasi di Kafe Black Canyon Cikini. Kami berpelukan di dalam mobil, di ruang ATM dan di halaman parkir. Tapi pulang dari Black Canyon, sumbu berkobar lagi. Dia menangis sesunggukan.
“Siapa perempuan yang melambaikan tangan padamu itu?”


Setelah berkerut dahi, akhirnya aku ingat. Ketika duduk di Black Canyon beberapa jam lalu, tanpa sengaja aku beradu pandang dengan seorang wanita. Secara naluriah saja aku menganggukkan kepala, dan perempuan itu membalas dengan lambaian tangan padaku. Tak nyana, sekarang itu menjadi bencana.


Aku pandangi mukanya. “Eh kamu tanya siapa dia? Mana aku tau? Aku tak kenal siapa dia. Kami cuma beradu pandang. Gila kamu. Aku bahkan sudah tak ingat hal itu. Eh kamu malah yang mengingat-ingat. Aku tak kenal. Emang gue pikirin?” jawabku dengan darah sudah sampai di ubun-ubun.


Sepanjang jalan ke rumahnya, kami diam seribu basa. Aku melucu, dia tetap cemberut. Aku membacakan secuplik sajak-sajaknya, dia buang muka. Aku minta permen, dia pura-pura tak mendengar. Aku sudah tak kuat. Aku balas dengan diam. Sepanjang jalan ke rumahnya, aku setel tape recorder kencang-kencang. Aku ngebut sepuasnya. Malamnya, aku nulis di inbox fesbuknya. Dan karena marah, suara ketikan di tuts keyboardku itu sampai berderak-derak.
“Kamu sakit jiwa. Aku tidak kuat dengan sikap over-protektif-mu itu.”


Esoknya sampai tengah hari dia tidak mengirim pesan singkat sama sekali. Aku pun tak mau kehilangan nyali. Aku juga ogah mengirim pesan singkat. Menjelang senja, hatiku lumer. Tapi aku tetap mencoba bertahan. Tahu-tahu ketika aku buka fesbuk, kubaca pesan dalam inboxku: “Aku kangen tapi aku sebel”. Hm. Rasain. Aku tetap tak mau menjawab. Rupanya dia juga tak menjawab. Hatiku mulai nyaris lumer lagi. Aku sudah mulai mengetik pesan singkat. Belum sempat aku pencet tombol send, masuk pesannya. “I miss U.” Hm. Kali ini aku tak membuang waktu. Kujawab segera: “So am I.” Astaga, aku menyesal ketika aku kemudian menekan tombol send. Mestinya aku tetap bersikukuh. Oh. Kenapa aku sangat lemah? Kenapa aku harus mengatakan hal-hal yang tak perlu?


Malamnya kami ke Goethe Hause, nonton acara baca puisi. Kali ini, seorang pria menyalaminya dengan hangat. Aku langsung buang muka. Ketika duduk di tengah gelap di dalam gedung, aku berbisik: “Asal kamu tahu, aku tidak suka melihat kamu berjabat tangan dengan lelaki itu,” kataku setengah mengancam.


Sepanjang acara aku tidak bercakap. Dia memegang tanganku.


“Kamu cemburu ya?”


“Gampangcemburu itu sifat tidak baik. Aku bukan pencemburu kayak kamu. Tapi kalau kamu mau tahu jawabnya, aku sayang kamu. Itulah penyebabnya” kataku. Dia menjotos perutku.

***

Aku menimang-nimang I-phoneku. Langit sudah terang tanah. Perasaan menyesal dan kangen pada Susan diam-diam mulai menyesap ke dalam darahku. Sambil bergegas menuju mobil, aku buru-buru mengetik pesan susulan:


“Tunggu. Lupakan ucapan-ucapanku yang tadi. Yang benar, aku mencintaimu. Sangat,” aku mengetik dengan cepat. Dan karena takut dia terlanjur ngambek, aku segera meneleponnya. Sambil menunggu teleponku dia angkat, aku merasa menyesal sungguh-sungguh. Kenapa aku harus meninggalkannya? Kenapa aku pergi tanpa mengajaknya? Kenapa aku pergi tak memberitahu sebelumnya? Kenapa aku harus berpisah dengannya? Gila. Mestinya semalam, aku bilang: besok kita jalan yuk. Ke Kroya. Ke Korea. Ke Kairo. Ah itu pasti sebuah kejutan baginya.


Ketika kemudian dia mengangkat telepon, aku mengatakan buru-buru: “Aku mencintai kamu. Aku tidak pernah membayangkan hidup tanpa kamu. Jangan tidur. Cepat mandi. Siapakan kopor. Aku akan menjemputmu. Kita akan pergi,” kataku menggebu.


“Gila. Pergi ke mana?”


“Ke ujung dunia!” kataku ingin menangis.


Aku langsung menancap gas pulang ke rumah.


Hm. Ingin meninggalkan Susan tapi sekaligus mencintai Susan mungkin memang hanya sebuah ilusi.***


.

.

Serpong City, 22 Feb. 2011


DIMUAT DI MAJALAH FEMINA

.

.

Minggu, 07 November 2010

Pengarang Yang Disandera Tokoh Cerpennya

Cerpen: Kurniawan Junaedhie


Ruangan itu dingin temaram. Baunya aneh, mengesankan bahwa rumah itu sudah lama tidak berpenghuni. Hanya ada terang dari tungku pembakaran yang merah menyala berkobar-kobar. Mengingat suhu yang dingin, ditambah ada tungku pembakaran, aku sempat berpikir, apakah aku sedang berada di sebuah rumah di sebuah negeri semacam Amsterdam, Oostende, Paris, Stuttgart, Brussels, atau Manhattan, New York? Nama-nama kota yang sesungguhnya hanya kutahu dari sajak-sajak para penyair Indonesia. Anehnya, aku juga merasa seperti berada dalam sebuah tempat di mana tinggal makhluk-makhluk aneh seperti yang digambarkan Lewis Carrol dalam Alice in Wonderland.

Begitulah. Dalam cerita ini, dikisahkan aku telah dibawa ke rumah itu oleh tokoh perempuan dalam salah satu cerpenku. Padahal beberapa menit lalu, aku masih asyik bekerja di ruang kerjaku. Tiba-tiba perempuan itu muncul, mengerdipkan mata, dan --seperti dihipnotis,-- aku patuh saja pada perintahnya untuk membuka garasi, menyalakan mobil, menjalankannya, menutup pintu garasi, dan meninggalkan rumah. Padahal aku yakin, saat itu aku sedang tidak bermimpi sambil berjalan atau noctabulism . Karena kalau aku mengalami somnambulism , seharusnya ada yang melihatku, dan mencegahku. Nyatanya tidak. Jadi ini sebuah cerita yang sungguh mustahil, absurd dan tidak masuk akal sama sekali seperti cerita-cerita rekaan Kafka.

Di dalam ruangan itu juga ada lampu gantung yang bergoyang-goyang. Hanya sinarnya lemah, kalah oleh benderang tungku perapian. Sehingga sempat pula aku membayangkan bahwa tempat ini semacam Kastil Neuschwanstein, yang letaknya di bukit dekat Hohenschwangau di selatan Bavaria, Jerman. Atau paling tidak aku merasa sedang berada di sebuah rumah bergaya gotik (kalau istilah ini benar). Ini juga mengherankan. Aku tidak pernah membuat cerita dengan setting seperti ini.

Sebagai pengarang, aku dikenal tidak pandai melukiskan rumah-rumah yang sophisticated, karena aku bukan dari kalangan itu. Jadi itulah nasibku. Akibat ketidakbecusanku menulis cerita-cerita glamor (seperti novel pop, novel metro pop), sains fiksi dan sejenisnya, maka aku hanya bisa menulis cerita tentang cinta yang abstrak dan tentang perempuan, dua hal yang siapa pun bisa melakukannya, apalagi karena semua itu dengan setting kemiskinan, sesuai kemampuanku.

Aku jelas bukan pengarang sekaliber Budi Darma yang bisa menulis Orang-Orang Blomingtoon, atau Umar Kayam yang menulis Seribu Kunang-Kunang di Manhattan, atau Sitor Situmorangyang menulis Paris La Nuit. Aku bukan jenis pengarang yang bisa menulis tentang salju, musim gugur, atau karpet Parsi seperti Goenawan Mohamad. Aku sendiri sebetulnya tak yakin benar, apakah kalau berada di luar negeri maka ilham akan bermunculan dan kata-kata berhamburan seperti salju? Aku tidak berani mengira-ira. Yang jelas, aku hanya bisa memeras-meras daya khayalku agar bisa menuliskan kebohongan menjadi kebenaran. Hanya itu tugasku, dan inilah hasilnya.

****

Bunyi sepatu yang dipakai perempuan itu menyadarkanku bahwa saat itu aku tidak sendirian. Dibantu tempias cahaya dari perapian dan lampu gantung, samar-samar aku menangkap sosoknya. Perempuan itu hadir persis seperti tokoh yang kugambarkan dalam salah satu cerpenku: tinggi semampai, cantik, tubuhnya padat, dadanya membusung, berambut panjang dan umurnya 37 tahun. Mirip Ken Dedes.

Karena dia diam, dan aku tak sabar menunggu, maka akulah yang memulai percakapan.
“Apa yang akan kamu katakan sehingga membawaku ke tempat ini?” tanyaku.

Aku menunggu jawabannya. Tapi perempuan itu tidak juga menjawab. Jadi aku meneruskan,
“Kalau ini menyangkut ceritaku yang membawa-bawa dirimu, katakan saja terus terang, biar aku mengerti. Percayalah, itu sekadar bualanku. Bualan itu pun tidak bermaksud untuk menjelek-jelekan kamu. Saat itu aku sedang suntuk di depan komputer, lalu karena tidak menemu kata untuk menulis sajak, maka aku coba mereka-reka cerita. Itulah awalnya,” sambungku.

Lagi-lagi, perempuan itu tak bergeming, diam seperti patung. Itu membuatku dalam posisi yang sangat inferior. Aku hanya melihat dia menggeser posisinya sehingga sekarang berdiri di depan perapian. Oleh cahaya dari perapian, tubuh perempuan yang dibalut gaun panjang transparan itu tentu saja menghasilkan sebuah siluet yang sangat indah. Mungkin seperti lukisan S Sudjojono, atau Hardi. Pada saat ini aku sesungguhnya sedang menyesali, kenapa sebagai pengarang aku tidak mau belajar di luar masalah-masalah kepengarangan, seperti, membuat film dokumenter, geografi, teknologi, astronomi……? Mengapa hari-hari senggangku hanya kuhabiskan untuk nongkrong-nongkrong di kafe, sekadar membahas daun gugur, kepak burung, ricik air? Mestinya waktu yang banyak itu juga bisa kugunakan untuk bisa belajar berdebat, atau atau membaca buku-buku agar khasanah sastraku bertambah luas.

Amboi. Perempuan itu sekarang beranjak. Ia duduk di kursi bar. Kakinya mengangkang. Aku lihat betis dan pahanya yang seperti lilin. Benar kan? Aku merasa sebagai Ken Arok yang sedang terpana melihat betis Ken Dedes. Perempuan itu tetap menatapku sekaligus membuatku kikuk. Aku ingat peristiwa di hotel itu. Dia membugil di depanku, menyodorkan payudaranya yang sintal. Saat itu aku sedang mengambil air minum, tiba-tiba dia meraih pundakku, menjatuhkan tubuhku ke ranjang, dan melucutinya. Untuk sejurus lamanya dia bergerak-gerak di atas tubuhku: pelan, kemudian cepat, selanjutnya cepat sekali. Hm. Kalau orang hanya melihat mimiknya yang tidak berdosa, mana mungkin orang percaya pada kenyataan itu? Pasti dikiranya aku yang membual. Dasar pengarang.

Perempuan itu tetap tak bergeming. Dia masih duduk dengan posisi seperti tadi: mengangkang. Aku lihat paha dan betisnya yang seperti lilin. Aku sungguh-sungguh merasa seperti Ken Arok melihat betis Ken Dedes.

Kudengar suara hujan dan halilintar menyambar-nyambar. Di tengah kegelapan, di antara cahaya api yang muncul berkobar dari tungku perapian, kulihat juga ada cahaya mengerjap yang ditimbulkan oleh cahaya kilat. Tahulah aku bahwa saat itu hujan turun dengan lebat di luar rumah. Bahkan rumah itu pun seperti terpengaruh, terbukti lampu gantungnya ikut bergoyang. Saat itu juga aku merasa limbung, seperti lampu yang dipermainkan angin.

“Cobalah berempati sedikit, seandainya kamu berada di pihakku. Bukankah cukup fair, kalau aku hanya mengambil sedikit saja dari realitas, mungkin 10 sampai 25 persen; selebihnya hanya bualanku belaka. Bukankah itu fair?” kataku menjelaskan. “Lagi pula kamu toh tahu, aku bukan pengarang yang dengan gampang membuat fakta menjadi fiksi. Tugasku hanyalah membuat sebuah bualan menjadi sebuah kenyataan tanpa harus membuat pembaca merasa dibohongi, risi, dihina intelektualitasnya, dibodohi, atau direndahkan. Lihat. Masih banyak pengarang yang mengambil hampir seluruh bagian dan peristiwa dari dirinya sendiri, dan malah mengubahnya seolah-olah menjadi fiksi. Mereka menjadi tokoh dalam fiksinya. Kenapa kamu timpakan kesalahan, hanya padaku? Ini sungguh tidak adil,” aku ingin memekik.

Sekelebat aku ingat kata-kataku dalam cerpen itu:

Dia duduk seenaknya di samping saya menyetir. Dia menyilangkan kaki bahkan, mengangkat kakinya di dashboard seperti orang slebor sehingga roknya tersingkap. Dengan sendirinya, diterpa lampu-lampu jalanan, dengan sangat jelas saya bisa melihat celana dalamnya. Saya pikir, dia mabuk, kebanyakan alkohol. Tapi saya pura-pura tidak tahu. Perempuan memang sering tak terduga.

“Oh, kalau itu masalahnya, sesungguhnya karena aku hanya ingin melukiskan kepada pembaca betapa sensualnya dirimu. Tidak lebih tidak kurang. Aku merasa punya hak untuk mengatakan bahwa kamu memang melakukan hal itu,” kataku terbata. “Dan cobalah kamu ingat-ingat lagi. Tak sedikitpun aku menceritakan adegan yang lebih dari itu. Apalagi dalam kisah itu aku melukiskan diriku sebagai seorang pria budiman. Apakah aku salah?”

Aku menekuk pandangan.

Perempuan dalam cerpen itu sekarang turun dari kursi barnya. Sekilas tampak belah dadanya. Bersamaan dengan adanya kilat yang disusul halilintar, lagi-lagi muncul running text yang menampilkan bagian kalimat dalam cerpenku itu:

Begitu pelayan pembawa air minum meninggalkan kami, dia sudah memeluk saya. Saya agak kaget. Terkesiap. Dia menciumi saya. Mencopoti pakaian saya sambil juga mencopoti gaunnya sehingga kami berpelukan dalam keadaan telanjang.

“ Jadi kamu mau menyanggahnya?”

Aku lihat reaksinya. Wajahnya dingin, seperti patung lilin. Dia sekarang melangkah memutariku. Aku ikut memutar pandangan mengikuti gerakannya. Terdengar tik-tok sepatunya yang berhak tinggi di antara renyai hujan.

“Atau kamu malah ingin menolak semua fakta itu dengan mengatakan bahwa tulisanku mencemarkan nama baikmu?” Aku menangis. Terus terang, aku menangis mengingat peristiwa di hotel itu. Alangkah sialnya, kenapa pada hari itu aku harus menemui perempuan itu. Padahal dia datang diantar oleh suaminya yang hanya menurunkannya di teras hotel untuk selanjutnya menggeblas pergi. Saat itu juga aku sempat bertanya, kenapa suaminya tidak ikut turun supaya kita bisa berkenalan? Tapi perempuan itu hanya tersenyum, dan mengatakan dia akan langsung pulang, karena harus menjaga anak-anak mereka yang sedang belajar di rumah. Saat itu bahkan dia menampakkan wajah gembira, dan mengatakan bahwa keadaan itu lebih baik karena kita bisa bebas. ‘Bebas untuk apa?’ Saat itu aku sudah ingin berteriak. Tapi, itulah salahku, aku malah ikut saja ajakannya untuk ke kamar hotel itu.

Aku sekarang menangis.

“Aku ingin minta maaf pada suamimu,” teriakku pada perempuan itu.

Suasana hening itu tiba-tiba pecah oleh suara tokek di balik lemari. Aku lihat perempuan itu masuk ke dalam gelap. Hanya kulihat punggungnya yang mulus sekelebatan karena pantulan api pembakaran dari tungku pembakaran. Lampu gantung tetap terayun dengan sinar lampu yang lemah. Tubuhku mendadak jadi dingin dan lapar. Aku merasa dalam sebuah ketidakpastian. Linglung tak berdaya. Bersamaan dengan itu, aku juga mulai putus asa.***

BSD/ Serpong, 2010

Catatan:

[1] Noctambulism: Berjalan dalam tidur tergolong gangguan dalam kelompok parasomnia. Penderita biasanya terjaga saat tidur atau masih terjaga namun berada dalam kondisi seperti tidur (sleeping state).

[2] Somnambulism: Gangguan yang membuat orang berjalan dalam keadaan tidur.


Kurniawan Junaedhie, tinggal di pinggiran Jakarta. Menulis puisi dan cerpen di media massa. Buku cerpennya: “Tukang Bunga & Burung Gagak” (2010). Menerbitkan buku kumpulan Puisi “Perempuan dalam Secangkir Kopi” (2010), dan ikut dalam antologi 15 penyair Indonesia “Senandoeng Radja Ketjl” (2010).

Dimuat di Jurnal Nasional 7 November 2010

http://www.jurnalnasional.com/show/newspaper?rubrik=Puisi&berita=148221&pagecomment=1

Senin, 18 Oktober 2010

Bekas Pengarang atawa Pengarang Bekas

Cerita pendek: Kurniawan Junaedhie


Hamid Hamaluddin –biasa dipanggil HH-- meradang, ketika tahu naskahnya dikembalikan redaksi suratkabar. Kalau sekadar cinta ditolak, mah, biasa. Tapi soal ini? Lihat saja. Mukanya merah padam. Giginya gemeletuk. Darahnya mendidih. Terdengar suaranya menggeram-geram seperti singa yang mencabik-cabik mangsanya. Naskah yang dikembalikan redaksi itu disobek-sobeknya, lalu dicampakkan ke lantai dan diinjak-injak. Itulah kenanganku terhadap HH berbelas tahun lalu.

Sebetulnya tak jelek-jelek amat reputasi HH. Pertemuan kami terakhir adalah saat kami berdua membaca puisi di Teater Arena TIM, atas undangan Dewan Kesenian Jakarta beberapa belas tahun lalu. Beberapa bulan setelah itu, kudengar dia menikah dengan seorang wanita bule. Dan sejak itu, kudengar dia ikut istrinya pindah ke Belanda. Sesekali kubaca sajak-sajaknya dimuat di majalah terkemuka, dan di beberapa suratkabar di Jakarta. Tapi selebihnya, kawanku HH ini seperti hilang digulung ombak. Namanya tak lagi terdengar. Tak banyak pengarang masa kini yang kenal namanya, kecuali teman-teman seangkatannya seperti aku.

Tidak kusangka, ketika aku jalan-jalan di sebuah mal di Jakarta, aku bertemu dia. Tadinya aku pangling. Kukira Syafrial Airifin, penyair asal Minang yang biasa nongkrong di TIM. Tapi dari caranya tertawa, seri wajahnya tak mungkin kulupakan. Bedanya, dia makin bersih, gemuk, dan rambutnya semakin putih. Dan waktu kutanya apa pekerjaannya kini, ---alamak,--- rupanya dia sekarang menjadi anggota parlemen.

Setelah bertukar nomor handphone, kami berpisah. Beberapa hari kemudian, ketika dia membaca karanganku di sebuah media, dia menelponku. Kami janjian bertemu. Awalnya aku minta ketemu di TIM saja. Tapi di luar dugaan, dia tidak mau.

“Jangan bawa aku bernostalgia,” katanya sengit. “Kita cari suasana lain sajalah,” katanya.

HH memilih singgah di Plaza Semanggi, dan masuk ke sebuah kafe. Dia pesan Blueberry Juice dan aku dengan sigap pesan kopi hitam panas. Karena kami sama-sama belum makan siang, dia pesan Tomodachi Beef Steak dan aku (setelah melihat-lihat daftar menu dengan susah payah) memilih: sop buntut saja.

Sambil makan, kami bercerita tentang macam-macam hal termasuk, nasib kepengarangannya. Aku bertanya, kenapa karya-karyanya sekarang tak pernah kubaca lagi di media massa, dan apakah dia masih berkarya mengingat puisi-puisinya seingatku sangat bagus dan dipuji banyak kalangan.

“Aku sudah menanggalkan mimpi menjadi pengarang, Bung.” HH tertawa.

“Bukankah namamu sudah dikenal oleh mereka?” tanyaku sambil menuang gula ke kopi tubruk yang di kafe itu dibilang sebagai hot black coffee.

“Terkenal buat siapa?” sembur HH, sambil meludahkan ampas kopi di pisin.

“Jangan sudzon, kawan. Cobalah kau kirim lagi.”

“Pokoknya aku sudah tak mau menulis, Bung,” katanya. “Aku sudah berhenti dari dunia kepengarangan, tepatnya sejak dunia kepengarangan kita dipenuhi kolusi dan nepotisme,” katanya dengan nada masgul. “Kau tahu kenapa Buku Kumpulan Cerpen Si Polan diterbitkan oleh Departemen Kehutanan? Kenapa puisi-puisi Si Pailul bisa tampil di Suara Hariana? Kenapa cerpen-cerpen Si Polan bisa dimuat di koran Rompas? Dan kenapa Goenawan Suwigno mau menulis kata pengantar di buku kumpulan cerpen Badu Hasan?”

Aku menggeleng.

“Ah naif amat kau ini. Ya, tentu saja, karena mereka sudah saling berkenalan. Ada yang berkenalan karena satu gang dalam sebuah organisasi, ada yang karena sering bertemu dalam acara-acara sastra, ada yang sering bersurat-suratan dan macam-macam. Sedang aku dan para penulis pemula itu siapa yang kenal? Para pembuat keputusan di media itu tak tahu namaku. Kami tak pernah ngobrol dengan mereka. Aku tak suka menjawab email, tak ikut Facebook atau Twitter-an.”

“Bukankan mereka punya nama-nama besar karena karangan mereka memang hebat?”

“Bung,” kata dia lagi seperti menyesali kenapa aku harus menjawab. “Sebetulnya aku ingin mengungkapkan rahasia besar yang selama ini kupendam kepadamu.”

“Oya?” tanyaku ingin tahu.

“Sedikit-dikitnya ada lima jenis pengarang di Indonesia,” katanya sembari membuka telapak tangan kanannya dan mengeluarkan ibu jarinya seperti mengabsen.

“Yang pertama adalah jenis pengarang populer. Cirinya, karya mereka hampir tiap minggu dimuat di media massa, dan secara periodik menerbitkan buku baru. Kenapa mereka bisa begitu? Mereka adalah jenis yang menurut Seno Gumira Adjidarma disebut ‘manusia pergaulan’. Mereka kenal dengan hampir semua redaktur sastra, dengan cara apa saja, hanya agar karyanya mudah dimuat. Dalam kasus lebih ekstrem, pengarang oportunistik seperti ini pintar menjilat, menyogok redaktur, atau kalau perlu mengupah juri-juri lomba agar karyanya dimenangkan dan dinobatkan sebagai sastrawan besar. Sayangnya, karya-karya itu ditulis dengan semangat kejar tayang, sehingga mereka menulis secara ngawur, tergesa-gesa, terkantuk-kantuk, tanpa permenungan sehingga karyanya tidak memiliki kedalaman sehingga dunia tidak bergeming. Semboyan mereka, asal eksis dan narsis.”

Aku ternganga. Tak percaya aku melihat HH berkata seperti itu. Padahal rasanya, belum lama dia menjadi seniman militant di TIM. Ya beberapa puluh tahun lalu, kami memang seperti berumah di TIM. Bahkan rasanya segala sudut di pekarangan TIM itu tahu betul seluk beluk kami, siapa kami. HH, misalnya, setiap hari berdeklamasi di halaman belakang gedung IKJ (waktu itu LKPJ) untuk, katanya, mengasah perasaan dan menghaluskan budi bahasanya. Setiap hari kami juga nongkrong di warung-warung di pinggir Jalan Kalipasir. Kagum melihat Sutardji Calzoum Bahri. Dan saat itu HH pengen benar mengalahkan dia. Karena menurut pendapatnya pada waktu itu, semakin eksentrik kita maka semakin orang kagum pada kita. HH sepengetahuanku waktu itu juga kagum pada orang-orang yang suka mendebat dalam acara diskusi seperti Kamsudi Merdeka. Karena menurut hemat dia, orang yang pandai mendebat, akan dihargai orang.

“Dan sekarang pengarang jenis kedua. Mereka adalah kelompok pengarang yang tidak pernah melakukan apa-apa. Tak punya karya, tapi berpikir pun tidak. Tak ada buah pikirannya yang mewarnai khasanah sastra kita. Tapi menariknya, pengarang jenis ini tampil di mana-mana, hadir dalam acara apa pun dan muncul dalam event mana pun. Hahaha…. Nah ini yang ketiga. Mereka adalah pengarang yang senangnya berpikir sampai jidatnya berkilap. Kerja mereka cuma berdebat melulu. Di mana-mana dia senang mengajak kita berdiskusi. Mengkritik, mencerca, dan melecehkan. Seperti pengarang jenis kedua, mereka pun tak pernah menghasilkan karya.”

“Yang keempat adalah jenis pengarang yang bisanya hanya menulis. Dia tak senang berdiskusi. Selalu menghindar untuk berdiskusi. Pengarang jenis ini tentu saja tak pernah muncul dalam acara diskusi. Banyak hal menjadi penyebabnya. Bisa jadi dia memang tidak cerdas, pikirannya dangkal karena mereka tak suka membaca buku. Tapi bisa jadi, karena mereka ditakdirkan memiliki bakat alam."

“Dan ini yang kelima. Yaitu jenis pengarang yang masuk dalam golongan bekas pengarang, tapi sekarang tidak mengarang. Mereka hidup dalam mimpi-mimpi masa lalunya. Pengarang jenis ini karena merasa senior, kerjanya menggurui. Mereka selalu menekankan, betapa pentingnya kita belajar sejarah kesusastraan, dan sejenisnya. Bah, bukankah itu akal-akalan dia, agar kita mau membaca karangan-karangannya? Hahaha”

Aku termenung.

Aku merasa ciut. Aku mencoba menyeruput kopiku. Terasa hambar. HH menyalakan rokok untuk ke sekian kalinya. Aku memanggil penjaga kafe untuk mengganti asbak yang sudah penuh dengan asbak baru yang licin.

“Nah itulah rahasia yang ingin kusampaikan padamu,” katanya terbahak.

Sekarang kepalaku pening. Leherku kelu. Aku sudah merasa mau semaput karena caffein dari kopi tubruk itu mulai bekerja ditambah aroma nikotin yang mengharubiru. Cewek petugas café mendekatiku, berbisik, apakah aku mau menambah kopi lagi? Aku menggeleng. Aku berdiri minta pulang. Tawaran HH untuk mengantar ke halte atau terminal kutolak, dengan alasan aku masih ada acara lain.

Sejak itu, aku tak lagi bertemu dengan HH. Aku hanya melihat penampilannya di layar televisi. Rasanya aku juga mulai tidak ingin bertemu dia lagi. Bagiku dia sudah bukan lagi seorang sahabat yang enak diajak bicara tentang daun, angin atau gemericik suara air. Sebaliknya mungkin saja aku juga bukan sahabat yang layak dia ingat, sehingga hilang pulalah namaku dalam ingatannya. Kami masing-masing dipisah dua benua. Tapi mimik HH yang marah waktu naskahnya ditolak redaksi tetap kuingat. Itulah kenanganku terhadap HH. Tidak mungkin kulupa.*** (Nama dalam cerita ini umumnya fiktif. Hanya sebagian yang benar.)


Cibinong, Bogor, 2010

Dimuat Hr. Suara Karya 16 Oktober 2010
http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=264090

Sabtu, 09 Oktober 2010

Rahasia Keluarga

Cerpen: Kurniawan Junaedhie

Tidak habis pikir, ayah mertua yang sudah berumur 80 tahun ingin menikah lagi. Hare gene? Kabar itu saya peroleh dari istri. Istri memperoleh info itu dari adik iparnya, istri adik lelakinya. Adik ipar mendapat berita itu dari perawat yang merawat ayah. Saya minta istri menginterogasi perawat yang sengaja kami gaji untuk mengurus ayah.

“Dari mana kamu tahu?” tanya istri saya pada perawat itu.

“Tuan besar yang bilang sendiri.”

“Mungkin bercanda saja.”

“Enggak, kok Bu. Beliau serius. Saya hapal, mana yang becanda mana yang serius.”

“Kok bisa?”

“Ya bisa saja, Bu.”

“Bukan. Maksudku, kenapa dia bilang sama kamu, tidak pada saya.”

“Enggak tahu Bu.”

“Awas kalau kamu bohong. Hidup sudah susah. Jangan mengada-ada.”

***

Saya pernah membaca buku karangan Gabriel Garcia Marques yang menggambarkan bagaimana sepasang suami istri di hari tuanya menghadapi berbagai macam masalah gejala ketuaan. Akibat prostat, sang suami tidak bisa mengemudikan alat kencingnya tepat ke dalam pot sehingga nyiprat ke mana-mana menimbulkan bau pesing. Dan itu menyebabkan keluhan sang istri setiap hari. Sang istri lalu mengajari suami untuk kencing duduk seperti yang biasa dilakukan kaum perempuan.

Saya tidak menyamakan ayah dengan tokoh suami dalam cerita Marques. Tapi kisah itu bisa dijadikan perbandingan. Ayah mertua sudah lama menduda sejak ibu mertua meninggal hampir 25 tahun lalu. Waktu itu, usianya 55 tahun. Sebuah usia emas, kata kebanyakan pujangga. Kata-kata itu tampaknya memang tidak berlebihan. Pada saat itu semangat ayah masih berkobar-kobar. Setelah pensiun setahun berikutnya, ia langsung menerima pekerjaan sebagai komisaris di beberapa PT, meskipun kerjanya hanya duduk dan memimpin rapat. Kadang-kadang cita-citanya juga masih seperti cita-cita anak muda. Misalnya saja, ia masih kepingin membangun pabrik peniti, membuka ranch untuk peternakan kuda, keliling dunia dan sebagainya.

Ketika itu sudah banyak handai taulan yang menyarankan pada kami sebagai anak menantunya agar mendesak ayah segera menikah lagi. Biar ada yang merawat dan membantunya mengingat dua anaknya sudah berkeluarga. Tapi saran yang jenius itu tak kesampaian. Semua tidak berani maju mengatakan sendiri pada ayah. Ayah sendiri sejauh itu, tak menunjukkan minat untuk menikah lagi. Dan yang pasti dalam usia seperti itu, dia terus sibuk dan bergerak terus.

Gara-gara itu, dia selalu menjadi ikon dalam keluarga kami. Kalau kami --saya sebagai menantu, dan adik istri saya yang lelaki-- kelihatan letoy sedikit saja, nama ayah disebut sebagai suri tauladan.

He is my hero.”

“Masak kalah sama Ayah?”

“Bravo Ayah!”

“Viva Ayah!”

Tidak ada yang mengalahkan ayah. Saya sudah harus mengurangi gula. Adik lelaki istri yang lebih muda, sudah kena kolesterol. Makannya dijaga, tidak boleh sembarangan makan yang mengandung lemak. Sementara ayah, hebat, bebas pantang.

Tapi tentu saja ayah, seperti orang lain, juga harus menyerah pada faktor usia. Setelah sempat lima tahun mengemudikan beberapa perusahaan sebagai komisaris, ayah mulai merasa lebih baik lebih banyak di rumah. Awalnya saya mengira, ayah akan segera mengalami post power syndrome, ternyata dugaan saya keliru. Dia tetap gembira, terus sibuk dan bergerak terus. Dua minggu sekali, dia bikin arisan bersama teman-temannya di kafe-kafe favoritnya. Minum kopi. Minum wine. Dan bersama teman-temannya itu ayah juga masih sempat ikut tur ke Cina, Israel, dan Afrika. Sebagai anak-menantunya, kami bukannya tidak pernah membujuk agar rumah besarnya dijual saja dan uangnya dimasukkan sebagai deposito, lalu ayah ikut salah seorang di antara kami. Tinggal di rumah sambil momong cucu, siapa tahu tidak hanya bisa memperpanjang umur tapi juga membuat hidupnya lebih berkualitas. Tapi lagi-lagi ayah menolak.

“Sudahlah, kalian tidak usah cerewet. Ayah tahu apa yang harus ayah lakukan.”

Nah, sekarang terbetik berita ayah mertua berniat menikah lagi. Jelas ini bukan main-main, kalau kata-kata sang perawat benar. Hanya, hare gene?

Benar saja, berita ayah mertua yang berumur 80 tahun mau menikah lagi itu menyebar. Waktu belanja kebutuhan rumahtangga bulanan di supermarket, saya dan istri ketemu tetangga yang menanyakan kabar itu. Gile.

“Darimana Bapak tahu mertua saya mau nikah lagi?” tanya saya sedikit malu.

“Saya dengar dari istri saya.”

Istri saya melabrak istri tetangga.

“Darimana Ibu tahu Ayah saya mau nikah lagi?”

“Dari perawat.”

Tengkuk saya berdiri mendengar cerita istri.

“Kurang ajar. Siapa sih nama perawat itu?” kata saya.

“Namanya Ningsih.”

“Oke, kamu tanya Ningsih.”

Istri terus mengusut. Perawat Ningsih diinterogasi lagi.

“Kamu jangan kayak ember dong. Masak berita seperti itu sampai ke telinga orang lain?” kata istri saya marah-marah di telepon.

“Saya tidak bohong. Masak orang seperti saya berani bohong?”

“Saya kan juga sudah bilang sama Ibu tapi Ibu tidak percaya.”

“Nyatanya?”

“Nyatanya pigimana, Bu? Nyatanya Tuan Besar bilang sama saya, dia mau menikah lagi.”

“Saya sebagai anaknya saja enggak tahu, kok kamu sok tau.”

“Sumpah. Kalau Ibu tidak percaya, silakan tanya sendiri pada Tuan Besar.”

“Pokoknya saya tidak mau kalau kamu jadi ember.”

Saya langsung menyarankan pada istri supaya sebaiknya dia menanyakan langsung pada ayah. Jangan percaya pada mulut orang. Tapi istri tidak mau. Dia malah ganti menyarankan ke adik iparnya. Eh adik iparnya juga tidak mau. Kikuk katanya, karena dia hanya seorang menantu. Dengan alasan itu maka sekarang dia ganti mem-forward perintah saya ke perawatnya lagi.

“Dodol,” kata saya marah. “Kalau kalian tidak berani, saya yang maju bertanya. Ini soal serius. Kita perlu bertanya, biar segalanya jelas, Kalau memang iya, maka kita tinggal pikirkan bagaimana caranya. Kalau tidak juga jadi jelas. Supaya tidak menjadi bahan fitnah. Emang siapa ayah? Jenderal bukan, pejabat bukan.”

Suatu kali saya ketiban tugas harus menjemput dia di bandara karena Pak Ujang, kepala rumah tangga sekaligus sopir pribadinya sakit. Merasa dalam satu mobil, dan kebetulan bertemu muka, maka saya tidak mau melewatkan kesempatan untuk bertanya, apakah dia tidak kerepotan mengurus rumah, mengingat banyak tugas dan pekerjaannya?

“Ah, enggak apa-apa. Di setiap kantor, ayah kan punya satu sekretaris. Mereka selalu yang urus. Sudah cukuplah.”

“Tapi bagaimana kalau ada genteng bocor, bayar rekening listrik atau mengurus makan?”

“Kan ada Pak Ujang.”

“Mudah-mudahan sih tidak, tapi bagaimana kalau suatu hari Ayah sakit, siapa yang merawat?”

“Kan ada perawat.”

“Saya dengar dari Uni, bahwa…”

“Sudahlah, kalian tidak usah cerewet. Ayah tahu apa yang harus ayah lakukan.”

Saya diam membisu. Lidah saya seperti digunting.

Sampai di rumah, dengan wajah ditekuk saya melapor pada istri hasil pembicaraan yang menemui jalan buntu itu. Istri terpingkal-pingkal. “Mau aksi bau terasi,” katanya. Tapi lagi-lagi seperti kemarin-kemarin, saya tetap merasa perlu agar istri sebaiknya menanyakan langsung pada ayahnya. Jangan mudah percaya pada gosip, apalagi dari mulut perawat. Tapi istri –juga seperti kemarin-kemarin-- tidak mau. Dia malah ganti menyarankan ke adik iparnya. Eh adik iparnya juga –seperti kemarin-kemarin-- tidak mau. Kikuk katanya, karena dia hanya seorang menantu. Dengan alasan itu maka sekarang dia ganti mem-forward perintah saya ke perawat-nya lagi.

“Asem,” kata saya marah. “Kalau kalian tidak berani, bagaimana dong. Ini soal serius. Bukan main-main. Kita perlu bertanya, biar segalanya jelas, Kalau memang iya, maka kita tinggal pikirkan bagaimana caranya. Kalau tidak juga jadi jelas. Supaya tidak menjadi bahan fitnah.” Tapi itulah soalnya: saya sendiri tidak berani bertanya sendiri.

Akhirnya kami sepakat untuk tidak membicarakan hal itu lagi. Kami hanya sepakat menjaga agar berita itu –kalau pun benar—tidak menyebar ke mana-mana. Kami juga hanya sepakat untuk diam-diam mengawasi perilaku ayah. Tapi tak lama kemudian, kami ditelepon ayah. Dia memberitahu bahwa dia akan segera menikah.

Dia juga memberitahu bahwa calon istrinya adalah seorang janda, berusia 37 tahun, bukan Ningsih.

Setahun kemudian, lahirlah adik kami.

Ketika adik kami berusia dua tahun, ayah mertua meninggal dunia. Lahir, jodoh dan mati bukan milik manusia. Ningsih bukan ember.***

Gading Serpong, 2010

(Dimuat di Majalah Femina No. 39, 9 Oktober 2010)
.
.

Minggu, 13 Juni 2010

Perempuan Beraroma Melati

Cerpen: Kurniawan Junaedhie

Saat itu sekitar jam 10 malam lewat. Lampu neon dan pesawat televisi sudah dimatikan. Cahaya hanya muncul samar-samar dari lampu teras yang menerobos masuk kaca riben jendela.
Ruangan yang tadi siang berupa kantor merangkap apotek dan poliklinik yang luasnya 5 x 6 meter itu kini praktis sudah berubah fungsi menjadi barak. Orang bergeletakan seperti ikan asin. Orang tidur dengan posisi amburadul. Yang penting, bisa terlentang dan merebahkan badan. Mereka adalah keluarga pasien luar kota yang terpaksa menginap di barak sialan ini kerena harus menunggui kerabatnya yang sedang menjalani rawat inap. Pasalnya, pihak rumahsakit hanya mengizinkan satu orang saja yang boleh menginap di dalam kamar rawat. Lainnya tidak boleh.

Bau keringat basi bercampur bau obat menguar seluruh ruangan.

Saya sedang terlentang menatap langit-langit bersama teman saya Hatta. Ini malam pertama saya tidur di barak itu, sedang bagi Hatta merupakan malam ke-24. Ada rasa sesal, kenapa saya harus ikut mengantar anak saya berobat ke sini. Saya ada di sini semata karena menemani istri mengantar anak saya karena abang-abangnya tidak bisa meninggalkan kuliahnya.

“Sungguh. Aku bukan mau menakuti-nakuti. Tapi kamu akan membaui aroma bunga melati,” bisik Hatta. “Perempuan itu muncul pada sekitar jam dua pagi ketika suasana sudah senyap tak lama setelah satpam memukul kentongan dua kali. Parasnya cantik. Gaunnya panjang berwarna putih. Dia masuk dari kaca riben itu,” katanya sambil menunjuk ke arah jendela.

Kuduk saya meremang.

Duk. Kepala saya tertendang kaki orang di atas saya.

“Tapi kamu tidak usah takut. Perempuan itu tidak ngapa-ngapain. Dia hanya akan menampakkan pada orang yang keluarganya bakal meninggal,” suara Hatta berbisik di telinga.

“Semacam tanda bagi keluarga yang akan ditinggalkan?” tanya saya bergetar.

“Ya. Begitulah yang saya dengar dari para penghuni yang pulang.”

Tengkuk saya meremang lagi. Kalau ada selimut, saya mungkin akan menutupi wajah saya dengan selimut. Tapi jangankan selimut, alas tidur pun saya tidak punya, sementara teman-teman lain menggunakan tikar dan koran untuk alas tidur. Punggung saya sakit.

Duk. Kepala saya tertendang lagi. Sialan. Kali ini oleh kaki orang yang tidur di atas sebelah kiri saya. Di bawah, kaki saya juga berkali-kali tanpa sengaja menendang kepala seorang ibu. Untung ibu itu tidak marah. Dia hanya mengelus kepalanya. Mungkin maklum. Sementara di kiri kanan saya berjubelan orang tidur. Saya lihat ada kepala anak kecil yang nyelip di sela-sela paha seorang lelaki gendut yang sedang asyik mengorok. Suara dengkur bersahut-sahutan. Seperti sebuah orchestra suara kodok dan suara gergaji. Saya tak tahan. Sungguh seperti barak pengungsi yang saya selalu saya lihat di televisi. Padahal menurut Hatta, jumlah penghuni malam ini sudah berkurang banyak. Tadi siang, tercatat ada tiga penghuni yang pulang.

“Senang ya kalau bisa pulang?” kata saya.

“Ya. Hanya ada dua kemungkinan kita bisa meninggalkan tempat ini: kerabat kita meninggal, atau kerabat kita sembuh,” katanya getir.

Saya tertegun.

“Begitulah romantika hidup, setiap hari ada yang datang dan ada yang pergi,” kata Hatta pahit.
“Mereka yang pulang itulah yang malam harinya melihat perempuan itu,” kata Hatta, lagi-lagi menyebut-nyebut perempuan itu sehingga bulu kuduk saya terus meremang.

Sayup-sayup terdengar bunyi lift yang anjlog di gedung sebelah.

Saya menarik napas. Betapa pun saya beruntung bisa tidur di sini. Hatta-lah yang tadi siang menganjurkan agar saya tidur di ruang kantor merangkap apotek dan poliklinik yang kalau malam jadi barak itu. Seperti dikatakannya, ia terpaksa ada di situ karena anaknya yang berumur lima tahun mengalami koma setelah proses pembedahan. Dia tidak bisa pulang karena setiap hari harus menengok anaknya di ruang ICU. Sama seperti saya, waktu pertama datang ke rumahsakit, istrinya juga ikut. Tapi setelah 10 hari tidak ada perkembangan, istrinya pulang karena masih harus mengurus ketiga anaknya yang sehat di rumah.
“Kalau bukan dokter saja, mungkin sudah saya labrak mereka. Saya selalu tidak berdaya dan lembek di depan mereka. Kita dipaksa menganggap mereka sebagai juru selamat.”

Dari tempias sorot lampu teras, saya lihat mata Hatta melihat langit-langit. Sementara itu, saya membayangkan, aroma bunga melati yang menusuk, perempuan berparas cantik, gaun panjang warna putih dan pukul 2 dinihari saat satpam membunyikan kentongan dua kali. Hm. Menyesal juga kenapa harus ikut tidur di barak. Ah, kalau bukan karena sayang anak…

“Mudah-mudahan malam ini salah seorang di antara kita tidak perlu melihat perempuan itu,” katanya sambil masih menatap langit-langit yang remang-remang.

“Ya.” Saya menguap. Terdengar dia juga menguap.

“Kamu tidur saja. Saya juga sudah ngantuk.”

Rupanya saking lelahnya saya langsung tertidur pulas. Saya baru terbangun ketika mendengar teriakan petugas. “Ayo bangun, bangun, hari sudah siang. Kantor mau dirapikan. Sebentar lagi karyawan datang. Ayo.”

Para penghuni barak itu pun rame-rame bangun. Suara geresek kertas koran, sarung, dan tikar yang dikemasi terasa hiruk pikuk. Lalu, setelah itu, seperti ritual saja, semua beramai-ramai memburu kamar mandi dan WC umum yang tersedia di sejumlah blok rumahsakit agar kebagian. Hatta menggandeng tangan saya agar mengikut dia.

“Ayo cepat. Cepat. Kalau tidak cepat tidak dapat,” katanya. Saya sempat melihat seorang ibu menarik-narik tangan anaknya yang sibuk menyeret-nyeret tikarnya.

Karena ikut Hatta, saya menemukan kamar mandi yang bebas dari antrean jauh dari situ, yaitu dekat kamar mati.

Sesudah badan segar, dan sarapan bubur ayam di pinggir jalan depan rumahsakit, kami berpisah. Hatta menuju ICU melihat kondisi anaknya, sedang saya sendiri menengok putri saya di kamar inap. Ketika saya lewat, orang-orang yang tadi antre di kamar mandi dekat barak sudah lenyap. Tak ada lagi wajah-wajah yang tadi saya lihat tidur di barak. Mereka rupanya memanfaatkan waktu ke Dufan atau melancong ke Pasar Tanah Abang membeli tekstil. “Dasar Melayu, ke Jakarta untuk menjagai keluarga sakit, malah jalan-jalan,” kata pemilik warung dekat halaman parkir tempat saya ngopi. Barak pun sudah lenyap, menjelma menjadi ruang kantor yang bersih, wangi dan ber-AC.

***

Malam itu, seperti kemarin, setelah Isya, satu demi satu orang mulai berduyun-duyun menyesaki ruang kantor yang sudah kembali jadi barak.

“Tadi siang tiga penghuni pulang lagi, “ kata Hatta ketika saya mencoba merebahkan badan di sampingnya. “Mudah-mudahan tidak ada di antara kita berdua yang nanti malam melihat sosok wanita bergaun putih yang beraroma melati itu.”

Hatta melipat koran dan menatap langit-langit. Bulu kuduk saya berdiri.

Tak lama kemudian, seperti kemarin, persis pukul 9, AC dimatikan petugas. Sejam kemudian, pesawat televisi giliran dimatikan. Selanjutnya, lampu neon dimatikan. Ruang seketika menjadi gelap. Semua kegiatan berhenti. Tinggal lampu teras. Suasana yang tadi riuh mendadak senyap. Penghuni mulai merebahkan diri di lantai siap memicingkan mata. Suasana pengap. Seiring dengan itu bau keringat basi bercampur obat pun mulai menguar lagi. Tiba-tiba terdengar ada bunyi SMS. Karena bunyinya sama, hampir semua yang mendengar meraba handphonenya. Tapi belum sempat melihat handphone, seorang bapak bersama anak lelakinya, yang tidur persis di bawah pesawat televisi, sontak berdiri. Keduanya keluar. Agaknya ada panggilan penting. Benar saja. Tak lama kemudian bapak itu muncul lagi tapi kali hanya untuk mengambil ransel. Matanya lebam. “Istri saya meninggal,” katanya lirih mohon pamit.

Terdengar gemuruh orang mengucap Innalillahi….

“Berarti, sudah lima orang pulang hari ini,” kata Hatta. “Hm, semua orang yang ada di sini memang sedang menunggu giliran, dengan dua kemungkinan,” lanjutnya.

Saya memiringkan kepala, menghindari tubrukan dari kepala teman sebelah kiri sekaligus menghindari Hatta yang saya lihat tengah melamun. Sayup-sayup terdengar bunyi lift yang anjlog di gedung sebelah.

“Tadi siang saya juga terima SMS dari istri,” terdengar lirih suara Hatta dari kegelapan. “Istri sakit. Anak-anak juga sakit. Uang sekolah belum dibayarkan. Bank dan rentenir menagih. Saya diminta pulang. Tak tahan dia menghadapi debt collector. Padahal sudah dua mobil dan sebidang tanah kami melayang untuk kesembuhan putri saya.” Suaranya parau. “Asal kamu tahu, ini malam ke-25 saya ada di sini. Saya sudah tidak betah. Tak berkesudahan. Tak tahu sampai kapan.”

Saya berbalik menoleh. Saya lihat ada air menggenang di matanya.

“Hidup jalan terus. Masih ada tiga anak yang harus saya nafkahi,” katanya menerawang dalam gelap.

Saya menguap. Terdengar dia juga menguap.
“Kamu tidur saja. Saya juga sudah ngantuk.”

***

Pagi itu, seperti kemarin, saya baru terbangun oleh teriakan petugas.

“Ayo bangun, bangun, hari sudah siang. Kantor mau dirapikan. Sebentar lagi karyawan datang. Ayo.”

Kami pun rame-rame bangun. Suara geresek kertas koran, sarung, dan tikar yang dilipat terasa hiruk pikuk. Lalu, setelah itu, semua beramai-ramai memburu kamar mandi dan WC umum. Kami ikut berlari seperti pengungsi. Tapi di depan kamar mandi dekat kamar mati itu mendadak Hatta berhenti. Dia berbalik dan menatap saya.

“Saya sudah melihat perempuan itu semalam. Dia masuk dari kaca riben itu. Dia muncul ketika suasana sudah senyap tak lama setelah satpam memukul kentongan dua kali. Saya membaui aroma bunga melati yang menusuk,” katanya lalu meraung-raung sambil meninju-ninju dinding kamar mandi. ***

Serpong, 28 Feb. 2010

Senin, 29 Maret 2010

Perempuan Pemuja Kata

Cerpen: Kurniawan Junaedhie

Kamu mungkin akan melupakan orang yang tertawa denganmu, tetapi tidak mungkin melupakan orang yang pernah menangis denganmu (Kahlil Gibran)

Sungguh menakjubkan. Perempuan itu tidak hanya cantik, tetapi juga pandai menyusun kata. Dan kata itu oleh dia, --menurut hemat saya-- ditekuk-tekuknya, lalu dibentuknya menjadi kalimat, dan kalimat-kalimat itu kemudian ditata dan dipatut-patutkannya dalam sebuah rangkaian puisi atau prosa. Maka besar dugaan saya, ia telah menuliskan banyak kata selama hidupnya. Tapi kemudian dia menyanggah.

Perempuan itu menurut pengakuannya sendiri berusia 37 tahun. Ia adalah ibu dari dua anak yang berusia 17 tahun dan 12 tahun. Ketika si bungsu lahir, sekitar umur 3 bulan, suaminya kabur dengan perempuan lain. Sejak itu ia tidak pernah bersua lagi dengan suaminya, kecuali ketika mengurus surat perceraiannya. Itu pun tak sempat bertemu, karena si suami kemudian menyerahkan urusan perceraiannya kepada pengacaranya. Selanjutnya, ia kawin lagi dengan suaminya yang sekarang.

Dengan cara bodoh saja, saya bisa menaksir bahwa ia menikah sedikitnya pada saat berusia 20 tahun. Itu pun dengan catatan, begitu menikah, dia hamil dan langsung melahirkan si sulung tadi. Dan sejak 12 tahun lalu, kalau keterangan yang diberikan benar dan sahih, maka sejak saat itu pula ia tidak pernah tidur bersama lelaki lainnya, kecuali suami sialan itu. Hanya ada keterangan tambahan: saat dia berjilbab dan berusia 20 tahun dia diperkosa.

Kalau saya mengatakan tubuhnya langsing, jangan kaget. Tapi memang, ketika saya kemudian mengetahui lebih jauh, sungguh menakjubkan bahwa ternyata perutnya tetap pipih. Tak ubahnya perut seorang gadis. Sepengetahuan saya, itu bukan perut ibu dari dua orang anak yang biasanya sudah berlipat-lipat, membentuk undak-undakan. Dan ketika saya pun kemudian menyentuh tubuhnya, --subhanallah-- semakin takjublah saya, bahwa payudaranya ternyata masih sintal. Kedua gunung kembar itu berdiri gagah: tegak dan tidak loyo. Sekali lagi, aneh. Ini jelas bukan gambaran lumrah untuk payudaya seorang ibu dari dua anak yang biasanya sudah menggelambir.

Tapi begitulah kira-kira urutannya, bagaimana saya bisa mengenal perempuan berperut pipih yang pintar bermain kata itu. Apakah karena ia jarang disentuh lelaki bahkan suaminya? Kenapa ia suka merangkai kata? Kenapa ia tetap cantik? Semua itu menjadi pertanyaan saya, setelah beberapa kali pertemuan.

Ia menelepon saya pada suatu Sabtu. Karena saya sedang bersama keluarga, telepon tidak saya angkat. Saya kirim SMS, agar ia kirim pesan singkat saja. Beberapa detik kemudian, ia mengirim pesan, bahwa ia ingin bertemu saya.

Saya segera meluncur dan bertemu di sebuah kafe, di bilangan Sabang. Kafe itu bernama Kopi Thiam Oey, katanya, milik Bondan Winarno. Siapa Bondan, tak penting benar. Saya hanya ingin mengatakan bahwa, saya bertemu di sana di suatu hari Sabtu, di mana kafe itu biasanya penuh sesak dengan tetamu.

Penerangan lampu di kafe itu remang-remang. Enak untuk main mata dan bisa untuk saling menjawil tanpa diketahui orang.

“Kenapa kamu mau berkenalan dengan saya?” itulah pertanyaan yang sering saya ulang-ulang setiap bertemu. “Saya hanya lelaki berumur. Kalau kamu mau, kenapa kamu tidak memilih saja lelaki lain, yang jauh lebih muda?”

Perempuan itu tersenyum dan menyandarkan kepalanya di pundak saya.

Hubungan kami sebetulnya baru berlangsung 3 bulan. Tapi kami merasa sudah akrab satu sama lain. Mungkin karena hampir setiap menit, kami berkirim pesan pendek. Atau kalau kebetulan kami sedang membuka internet, kami berkirim pesan lewat inbox atau chatting. Pekerjaan itu bisa memakan waktu dari pagi sampai subuh dinihari. Nah, ini dia.

Pada mulanya adalah, kata.

Ia menulis begini di dinding Facebook-nya:

Kamu mungkin akan melupakan orang yang tertawa denganmu, tetapi tidak mungkin melupakan orang yang pernah menangis denganmu (Kahlil Gibran)

Bagi saya, kalimat ini agak aneh. Kahlil Gibran bagi saya kedengarannya sudah kuno. Kenapa perempuan itu menyukai Gibran? Adakah kelebihannya?

“Dari mana kamu tahu?” tanya saya.

“Saya membaca 'The Prophet' dalam versi aslinya,” jawabnya.

Untung saya tidak sedang berhadapan muka. Kalau tidak, dia tahu perubahan wajah saya, karena saya cuma membaca hasil terjemahan dalam bahasa Indonesia oleh Bahrum Rangkuti pada tahun 1949.

Beberapa hari kemudian, dia menulis lagi begini:

Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa peduli apakah ada orang lain yang mendengarnya. Bahkan mereka juga tidak peduli dengan kata-katanya sendiri. (SGA)

Saya merasa tidak asing dengan kalimat itu. Siapa SGA? Saya juga tidak merasa asing dengan akronim ini. Langsung aku menanyakan, pemilik kalimat itu, di bawahnya. “Aku pemuja Seno Gumira Adjidarma,” tulisnya kemudian. “Aku bahkan kenal istrinya. Ike namanya.” Dia melanjutkan.

Saya bertanya, bukankah kamu pemilik dan pemuja banyak kata, kenapa kamu mengutip tulisan itu?

“Bagi saya kata-kata cuma benda yang bisa ditekuk-tekuk, atas kemauan saya. Sayalah majikan atas kata-kata itu. Saya tidak pasrah pada kemauan kata-kata. Kata-kata yang dibiarkan memang akan liar seperti anjing hutan. Kata-kata yang dibiarkan juga akan seperti serpihan batu, yang tidak kuat bobotnya. Kata-kata harus diarahkan agar sesuai tujuan kita,” tulisnya mengejutkan.

“Jadi apa arti puisi-puisimu selama ini?”

“Tangkaplah dari apa yang kumau. Jangan kamu mau terpedaya kata-kata di dalamnya.”

Saya bukan sastrawan, bukan pujangga. Tapi dari situ saya tahu bahwa dia tidak hanya bercitarasa tinggi, tetapi juga asyik. Saya senang berkenalan dengan perempuan seperti ini. Jarang-jarang ada perempuan seperti ini. Kami keterusan bermain kata. Sampai akhirnya perempuan itu minta ketemuan di sebuah Mal. Saya sempat merasa aneh.

“Bagaimana suamimu?” tanya saya.

“Saya punya suami tapi itu tidak penting benar.”

Aku melongo. Perempuan itu malah balik bertanya, “Apa yang salah?”

Saya agak terpojok.

“Tentu tidak apa-apa,” saya cepat mengelak dan mengalihkan perhatian. “Saya belum pernah ke Mal itu.”

“Kita ketemu di JCO saja. Dari luar, sudah tampak mereknya. Siapa datang duluan, duduk saja di situ.”

“Oke.”

Seorang lelaki setengah umur seperti saya jelas tidak nyaman berduaan di tempat umum dengan seorang perempuan. Meski saya bukan selebritis, bukan tidak mungkin ada saja kenalan di mal itu yang melihat kami. Karena itu saya mengajak dia mencari tempat yang lebih afdol. Tanpa dinyana dia menawari masuk karaoke. Yang surprise, perempuan yang kata-katanya romantis itu, tak segan-segan menyanyi dengan riang. Dan sekali tempo, menyerahkan mike agar saya juga ikut menyanyi. Aku mulai berpikir bahwa perempuan ini sesungguhnya kesepian. Dia pada dasarnya membutuhkan teman, untuk berbagi perasaan dan bertukar pikiran. Dan saya dianggapnya orang yang tepat untuk itu. Dan meski tempatnya remang-remang, kami tidak melakukan apa-apa, kecuali bercakap-cakap, atau berbisik-bisik. Seingat saya dia sempat menyandar di pundak saya. Tapi kemudian, dia minta maaf, merasa tidak pada tempatnya. Kami minum bir, ngobrol ringan, menyanyi, Begitulah, kami berada di karaoke itu sampai karaoke itu tutup.

Karena hari sudah malam, saya menawarkan diri untuk mengantarnya ke rumah. Nah di dalam mobil, saya mulai melihat dia agak genit. Dia duduk seenaknya di samping saya menyetir. Dia menyilangkan kaki bahkan, mengangkat kakinya di dashboard seperti orang slebor sehingga roknya tersingkap. Dengan sendirinya, diterpa lampu-lampu jalanan, dengan sangat jelas saya bisa melihat celana dalamnya. Saya pikir, dia mabuk, kebanyakan alkohol. Tapi saya pura-pura tidak tahu. Perempuan memang sering tak terduga.

Tepat di depan rumahnya saya turunkan dia. Dia agak lama berkutat sebelum turun, padahal central lock sudah saya buka. Dalam kegelapan di dalam mobil itu, saya merasa, dia terus memandangi saya.

“Ada apa?” saya bertanya mendadak ke arahnya.

“Aku senang berkenalan denganmu,” jawabnya. Senyumnya lucu. Tidak nakal.

Karena tidak turun-turun juga, saya pikir, dia mungkin ingin kami berciuman dulu seperti dalam film-film. Saya mengangsurkan wajah. Saya pegang tangannya. Tapi dia langsung membuka pintu. Melompat keluar. Saya dibuat terkesima. Padahal saya ingin mengucapkan salam untuk suaminya.

Minggu berikutnya saya janji ketemuan lagi. Bukan di JCO, tapi di toko buku masih di Mal itu. Karena saya pria berumur yang tak ingin dilihat orang sedang kencan dengan perempuan lain, saya ajak dia keluar dari Mal. Kali ini tanpa ragu saya ajak dia ke motel. Kalau pun dia menolak, atau tersinggung saya sudah siap jawabannya. Tapi perempuan itu tidak menolak.

Begitu pelayan pembawa air minum meninggalkan kami, dia sudah memeluk saya. Saya agak kaget. Terkesiap. Dia menciumi saya. Mencopoti pakaian saya sambil juga mencopoti gaunnya sehingga kami berpelukan dalam keadaan telanjang. Dia melakukan apa saja yang selama ini tidak pernah saya bayangkan.

Sehabis itu, bahkan selama di mobil waktu saya antar pulang, kami tidak bercakap sepatah kata pun. Kata-kata tiba-tiba menjadi tidak berarti. Di depan rumah, saya turunkan dia. Juga tanpa ciuman seperti dalam film. Saya membayangkan, suaminya sedang mengintai dari balik pintu.
Besok paginya, begitu bangun tidur saya membuka Facebook. Saya tidak menemukan pesan atau kalimat-kalimatnya. Di kantor, saya buka lagi. Masih tidak saya temukan apa-apa di Facebook. Kemana dia? Apa dia menyesal telah bertemu saya face to face? Saya punya nomor handphone-nya. Tapi kalau benar dia telah menyesal berjumpa saya, buat apa saya menghubunginya?

Malamnya saya tidur gelisah. Saya seperti membaca baliho besar iklan rokok yang betuliskan, Gak Ada Loe, Gak Rame. Saya ingat suara perempuan itu. Saya ingat waktu dia pegang microphone di tempat karaoke. Saya ingat aroma rambutnya ketika dia secara tak sengaja menyandarkan kepalanya di pundak saya. Saya ingat kakinya mengangkang di dashboard itu. Saya ingat celana dalam itu. Saya ingat bagaimana dia seperti ular membelit saya, dan menggigit saya. Pokoknya saya gelisah. Saya membuka laptop. Lampu layar laptop benderang dalam kegelapan kamar. Cahaya di layar itu menimpa wajah istri saya sedang tidur terlelap. Tapi kata-kata perempuan itu tidak ada di layar. Layar seperti kehilangan kata-kata bersama hilangnya perempuan itu. Saya kemudian membayangkan bahwa suaminya sesungguhnya tahu semua perbuatan istrinya, tapi tak mampu berkata-kata. ***

Gading Serpong, Sept/ Nov. 2009



Dimuat Jurnal Nasional 28 Maret 2010
http://www.jurnalnasional.com/show/newspaper?rubrik=Cerpen&berita=117567&pagecomment=1

Secuplik komentar sejawat yang terekam melalui inbox (cerpen ini tidak disiarkan di FB:

Hardiansyah Kurdi 28 Maret jam 16:35
wah sudah dilahap sampai tuntas. bagus sekali, Pak. ini... sepertinya lebih bagus dari TBBG. rileks sekali feelnya. Mantabs. Tersanjung telah diberi kesempatan baca ini. Btw, kalo kirim cerpen ke Jurnas, via email mana ya, Pak? Pengen kirim2. Makasih banyak.

Kurnia Effendi 28 Maret jam 17:54
Wah mantap. Hanya KJ yang bisa membetot pembaca sejak awal hingga akhir, terseret arus, lalu terperangah. Panaaaas! Panaaas! ayo siap-siap buku baru

Iksaka Banu 28 Maret jam 20:09
Super mantap. Sdh cukup lama gak baca cerpen dgn gaya ungkap seperti ini. Mengalir. Pas. Tdk berbunga-bunga (padahal baru saja launching tukang bunga ya mas?)

Foeza Hutabarat 28 Maret jam 20:13
Facebook, ular betina dan singa jantan...haha...siapa yang kalah, tak soal...yg soal, boleh juga tuh HR buat ngajak kumur merasakan sensasi kopitam Oey...soal lagi, tokoh aku itu sudah di atas angin, karena suami perempuan itu tak bisa berkata-kata, hahaaa...

Ardi Nugroho 29 Maret jam 9:12
membaca cerpen Mas KJ serasa berekreasi ke ancol dan masuk ke dufan.. rileks dengan letupan yang nyaman mendul mendul..rasa yang sama pernah saya alami saat membaca OLENKA yang saya jadikan master piece dalam rasa baca saya.. -----sempat juga tersetrum mak nyus.. disini:

"Dia duduk seenaknya di samping saya menyetir. Dia menyilangkan kaki bahkan, mengangkat kakinya di dashboard seperti orang slebor sehingga roknya tersingkap. Dengan sendirinya, diterpa lampu-lampu jalanan, dengan sangat jelas saya bisa melihat celana dalamnya. Saya pikir, dia mabuk, kebanyakan alkohol. Tapi saya pura-pura tidak tahu. Perempuan memang sering tak terduga."

sungguh, aku terpana dengan cara Mas KJ memperlakukan imajinasi...

Jumat, 12 Februari 2010

Cinta Azalika

Cerita Pendek: Kurniawan Junaedhie (Khusus ditulis untuk majalah Story)

Waktu Ayi duduk di depan laptopnya di Coffee Bean, Sumarecon Mal Serpong, ia mendengar namanya dipanggil seseorang. Suara itu bukan suara yang asing. Suara itu pernah akrab di telinganya di suatu waktu. Maka ia cepat menoleh ke arah datangnya suara. Karena hari masih siang, kafe itu itu lengang, Ayi segera saja menemukan sosok yang berdiri tegak sekitar sepuluh meter dari tempatnya berdiri, di depan counter. Ia menebarkan senyum.

“Jemi?” ia berteriak setelah sedetik tertegun. Hatinya berdebar. Ia menatap lama laki-laki 20 tahun bertubuh krempeng, jangkung dan berambut jabrik kayak tokoh komik Jepang yang sudah dikenalnya seperti dalam mimpi. Laki-laki itu mengenakan t-shirt yang dihiasi kotak-kotak besar. Dia memang bukan orang yang asing.

“Sudah kuduga, akan ketemu. Rumahmu masih di situ kan, di belakang mal ini?” tanya cowok bernama Jemi itu seraya meletakkan dua gelas ice chocolate late di meja. Dia mencium pipi Ayi lalu duduk.

“Mimpi apa aku bisa bertemu dengan penyanyi terkenal?” jawab Ayi sambil mencoba mengendalikan debar jantungnya.

“Jangan begitu,” kata Jemi duduk.

“Emang begitu. Semua orang tahu kamu ngetop sekarang.”

“Eh, kamu tambah cantik,” kata Jemi mengalihkan perhatian.

“Hm, jadi dulu kurang cantik ya?”

Jemi tertawa. “Masih seperti dalam angan-anganku,” katanya.

“Eh ngapain ke sini? Ada janji dengan fans?” tanya Ayi mulai tenang. “Bukankah rumahmu jauh dari sini dan sekolahmu di Paris?”

“Jangan sinis begitu. Kamu tidak berubah.”

“Kamu juga tidak berubah: tetap sensi. Sensitif.”

“Tadinya aku mau mampir ke rumahmu. ”

“Oya? Hebat amat?” Ayi meneguk minumannya.

“Tapi rupanya Tuhan mengatur supaya kita ketemu di sini,” dia mendehem. “Wah aku senang bisa ketemu kamu di sini. Nggak nyangka sama sekali. Suer.” kata Jemi mengangkat dua jarinya. “Bagaimana kabar adikmu Ela? Wah dia lucu. Konyol. Aku sering main fesbukan sama dia, lo.”

“Jadi…. Astaga. Jadi kamu tahu aku akan ke sini karena dia?” Ayi mulai curiga.

“Hahaha.” Jemi tertawa. “Semalam aku dan dia chatting-chattingan.”

“Dasar.” Pantas. Ela minta dijemput. Dengan alasan takut pulang sendirian, maka dimintanya kakaknya datang lebih awal dan duduk menunggu di Coffee Bean. Habis itu , katanya dia akan ke Gramedia karena ada diskon 70 %. Tidak taunya….

“Kenapa kamu nggak pernah mau membalas email dan fesbukku sih?” tanya Jemi mengagetkan lamunannya.

“Aku kan nggak penting buatmu. Kamu sudah jadi artis top.”

Ayi menunduk, mengaduk-aduk chocolate di gelasnya.

“Kenapa sih kamu nggak mau jawab pesan-pesanku di inbox?” Dia mengulang pertanyaan.

“Sudah kujawab tadi kan? Aku sudah nggak penting buat kamu. Dan aku juga betul-betul sibuk. Pulang sekolah jam tiga. Habis itu ikut aneka kursus. Pulang sudah capek, masih harus buat pe-er. Nggak sempat buka fesbuk, nggak sempat buka internet. Nggak menarik. Ceritakan saja, apa pengalaman-pengalamanmu di Paris dan jadi artis terkenal. Itu lebih menarik.”

Ayi menatap mata belo Jemi.

***

Ayi mengenalnya tiga tahun yang lalu ketika mereka ditakdirkan harus duduk sebangku di kelas tiga SMP. Awalnya Ayi tidak terlalu suka cowok itu. Gayanya tengil. Cenderung over confidence. Mungkin karena --kata teman-temannya,-- dia anak band. Meski tidak tampak, Jemi anak orang kaya. Saban hari dia diantar dan dijemput dengan mobil BMW. Padahal yang lain, paling diantar Inova, Avansa, CRV, Honda Jazz, APV atau Grand Livina. Dari gayanya, uh, sudah keliatan. Karena tidak bisa diam, Ayi menyebutnya, autis.

Karena itu ketika hari pertama dia resmi duduk di kelas tiga, dia mengadu pada ibunya. “Kayaknya tahun ini bakal jadi mimpi buruk, Ma,” katanya. “Teman sebangkuku anak autis.”

“Waktu kelas dua kamu duduk dengan si Aal, kamu juga sempat bilang dia anak cupu. Nyatanya kamu juga sahabatan,” kata ibunya.

“Lihat saja nanti.”

Tak disangka, suatu hari guru Bahasa Indonesia menugaskan anak-anak sekelas membuat puisi dalam rangka hari Valentine. Mampus. Ayi paling tidak suka puisi. Bacaan apa itu? pikirnya. Mending baca komik atau novel, sudah jelas ada melow-melownya atau adegan-adegan serunya.

“Mau kubuatin puisi untukmu?” tiba-tiba terdengar suara dari arah samping. Jemi.

Ayi menoleh dengan gemas, karena ia merasa isi hatinya bisa terbaca dengan jelas. Lagi pula, anak autis dan anak band begitu, mana bisa jadi pujangga? Tanpa sadar, Ayi tertawa sinis.

“Serius. Aku serius dengan tawaranku. Tapi itu pun kalau kamu mau. Aku pantang memaksa, bukan tipeku,” kata Jemi dengan wajah seperti bayi.

Sejurus lamanya Ayi mencoba menaksir: apa arti tawarannya itu. Apakah dia sedang menyombongkan diri? Atau memang mau membantu dengan tulus ikhlas? Dan apakah benar dia memang pandai menulis puisi?

Tapi Ayi langsung memotong:
“Aku juga bisa bikin puisi. Gampang. Apa susahnya membuat puisi.”

Jemi tertawa. “Ya sudah, coba saja.”

Pulang ke rumah, Ayi membuka internet, dan mencari di Google dengan kata kunci: puisi. Yang ditemukan bermacam-macam. Ada puisi Chairil Anwar, Amir Hamzah, Rendra, Sutardji Chalzoum Bahri…. Dia merasa nama-nama itu aneh. Dia lebih kenal nama-nama Rihanna, Chris Brown, Afgan….. Ia juga mencoba menulis beberapa kata dan kalimat, digunting, dimasukkan toples, dikocok dan dikeluarkan, lalu disusun untuk kemudian dituliskannya. Tapi hasilnya, sama sekali tidak mirip sebuah puisi.

“Ayi nyerah, Mah,” katanya masuk ke kamar mengadu kepada mamanya, dengan hati separuh menangis.

“Aku nggak bisa nulis puisi. Nggak ada keturunan pujangga.”

“Nulis puisi saja tidak bisa, bagaimana mau bikin caramel?”

Ayi melotot ke arah mamanya yang sedang membuat puding caramel.

Tiba-tiba ada SMS masuk.

“Bgm dg twaranku? From: Jemi.”

Hi. Kok dia seperti intel saja ya. Dia bisa membaca isi hatiku, dan tahu apa yang sedang kupikirkan, gumamnya.

“Twaran apa?” Ayi dengan cepat mengetik di keypad, pura-pura tidak tau.

“Puisi.”

“Kalau kamu jago, bikinin saja.”

“Yups. Beres. Kirim alamat emailmu.” Beberapa detik saja muncul jawaban dari si anak autis itu.

Karena memang sudah putus asa, Ayi menulis alamat emailnya,…..

Lima menit kemudian, muncul balasan: “Cek email”.

Ayi lari ke luar kamar, membuka laptopnya, dan mencek email. Astaga. Anak autis itu memang telah mengirim 4 buah puisi untuknya. “Cpt amat. Nyontek darimana? Jgn2 plagiat” jawab Ayi lewat email.

Beberapa detik, muncul jawaban di handphone:

100% guaranteed. Pake saja atas nama kamu. CU. “

Dengan puisi itu, tentu saja urusan dengan guru bahasa Indonesia berakhir dengan aman dan damai. Ayi mampu menyerahkan puisi cinta sebagaimana yang ditugaskan.
“Thank you, ya,” kata Ayi di halaman sekolah.

Nope. No problem. Aku hanya ingin berkenalan denganmu.”

Berkenalan? Ayi melotot ke arah anak autis itu.

“Bukankah kita sudah kenalan? Kamu lucu ya? Kamu namanya Jemi, kan? Dan kamu juga sudah tahu namaku, kan?”

“Belum. Namamu di sekolah Azalika, tapi panggilanmu di rumah Ayi. Hihihi.”

Sejak itu, mereka bersahabat. Kemana-mana pergi berdua. Ke mal. Ke Pacific Place meski cuma untuk beli sarung handhphone. Ke Taman Anggrek Mall, meski cuma untuk beli kado buat ulangtahun Ela adiknya. Nonton film. Baca buku gratis di Gramedia. Ayi juga diajak berkunjung ke studio musik kebanggaan di rumahnya. Nonton Jemi latihan band, rekaman vocal di studio dan lain-lain.

Ketika pertama kali datang ke studio musik Jemi, ia sempat kaget ketika di dinding studio terpampang wajah dirinya dalam sebuah lukisan besar.

“Aku yang melukisnya.” kata Jemi tanpa ditanya, “kamu marah?”

“Surprising.” Ayi cepat menggeleng. “Anak band, pinter melukis,” gumam Ayi sambil mengamat-amati dari dekat. Tapi ia sungguh heran, darimana Jemi mendapat contoh untuk lukisan itu?

“Kamu kan tidak pernah memiliki fotoku?” tanya Ayi.

“Itu hasil khayalanku.” Jemi mengambil Coca Cola dari kulkas dan membukanya.

Tiba-tiba sesuatu melintas di kepala Ayi. Sesuatu yang ganjil dan tidak semestinya. Didekatinya Jemi.

“Jem, apa maksudmu dengan semua ini?” tanyanya ingin tahu.

“Kukira kamu tahu jawabnya.” sahut Jemi agak gemetar. Ia menenggak Coca Colanya begitu saja.

“Apa?” tanya Ayi tidak sabar.

“Aku mencintaimu.”

Ayi terperanjat lalu terpingkal-pingkal.

“Lucu.”

“Apa?” Jemi berhenti menenggak minumannya, nyaris tercekat.

“Hihihi…. Ada-ada saja. Kita baru SMP, tau?”

Jemi tersenyum tipis, padahal seharusnya ia terkejut.

“Iya, nggak tau,” desisnya pada diri sendiri.

Ayi menatap mata Jemi.

“Lupakan soal tadi. Forget it.”

Ayi melihat mata Jemi yang polos.

“Oh tidak. Kamu sangat baik Jem. Kamu pintar. Dulu aku memang merasa kamu…..,” kata Ayi. Lalu ia merasa betapa pipinya jadi hangat karena air mata.

Jemi pura-pura tidak melihat.

“Ayo habiskan.”

***

“Nightmare berlalu,” tulis Ela, di wall fesbuk, nyindir. Mama yang jago bikin puding caramel mulai cemas. Dia takut Ayi falling in love. dan kalau ditinggal Jemi, akan patah hati. Mamah rupanya sudah pengalaman, bagaimana rasanya orang patah hati. “Ayi, ingat kata Mamah ya: Jemi hanya salah seorang. Kamu harus melihat yang lain. Dan kamu masih kelas 3, SMP. Perjalananmu masih jauh.

Hm. Jemi hanya salah seorang.

“Kamu tahu kenapa aku dulu bisa cepat mengirim puisi untukmu?” tanya Jemi pada suatu hari ketika diajak nonton Jemi latihan band.

Ayi menggeleng kayak anak bloon.

“Sejak kelas dua aku sudah naksir kamu. Dan aku menulis puisi itu untuk kamu.”

“Apa sih keistimewaanku?”

“Ingin tahu? Aku mencintaimu.” jawab Jemi.

“Sudah dua kali kudengar,” kata Ayi cuek.

“Asal kamu tahu, ya, banyak lagu-lagu ciptaanku lahir karena kamu,” kata Jemi.

“O ya? Kalau begitu kudoakan, mudahan-mudahan lagu-lagumu jadi hits,” sahut Ayi, juga dengan ringan.

“Jangan sinis.”

“Sensi amat seh.”
****

Hanya setahun sebangku di kelas tiga, mereka harus mengikuti ujian akhir tahun.

“Kamu mau masuk mana?” tanya Ayi iseng-iseng ketika jalan-jalan sehabis nonton film.

“Inilah yang ingin kukatakan sejak lama,” katanya termangu.

“He, dramatis amat?” tanya Ayi.

“Aku mungkin harus berpisah dengan kamu.”

Ayi terkesiap. Memang dramatis rupanya. Kalau melihat tampang Jemi rasanya juga dia tidak main-main.

“Kamu akan pindah ke SMA yang lebih top kan? Kita tidak satu sekolah lagi, begitu kan maksudmu?”

“Enggak hanya itu. Aku akan melanjutkan ke Paris. Bokap menyuruh aku sekalian belajar musik di sana.”

Ayi tercenung. Dipandanginya mata belo Jemi. Tapi pulang sekolah, tiba-tiba ia merasa bĂȘte. Malas untuk les Mandarin, atau Bahasa Inggris. Guru les private organnya yang biasa datang ke rumah, diminta supaya tidak datang. Makan pun tidak enak. Ada sesuatu yang tidak beres di hatinya.

Ela adiknya yang tahu gelagat menyindir di wall fesbuknya: “Patah hati ni ye…”

“Ada apa dengan Jemi?” tanya Mamah menyelidik seperti biasa.

“Gak ada apa-apa.”

Malamnya ketika Ayi tidur, Mamah diam-diam membuka HP Ayi. Hm, tidak ada yang mencurigakan. Tapi ketika menunggui Ayi sarapan, esok paginya Mamah ber’sabda’:
“Pokoknya Ayi harus ingat kata Mamah: Jemi hanyalah salah seorang. Jalan kamu masih panjang. Kamu masih SMP….”

***

Beberapa hari menjelang keberangkatan Jemi ke Paris, Ayi menerima SMS dari Jemi. Jemi ingin ketemu.

“Lusa aku terbang ke Paris. Ketemuan dulu yuk.”

Ayi tiba-tiba merasa sedih.

“G perlu,” jawab Ayi.

“Bsk aku brgkt. Dan aku merasa bahagia pernah mengenalmu.” jawab Jemi. Ayi tak menjawab, hanya menyeka air matanya.

“Pliz, jwb. Kamu g berharap kita akan ktmu lagi ya?”

“I don’t know,” jawab Ayi, “Kita kan bisa fesbuk-fesbukan atau email.”

Ketika Jemi melaporkan bahwa lukisan Ayi akan diangkut ke Paris,
Ayi menjawab: ”Kalo kama suka, bawa saja.”

Ayi tidak mengantar Jemi ke airport. Ia sempat kepingin ikut mengantar. Mamah setuju. Tapi Ela adiknya langsung ngeledek. Niatnya jadi urung.

Pada dari keberangkatan Jemi ke Paris, ia hanya kirim SMS: “Take care yourself “

“Cuma itu?”

“Gw gak bisa bikin puisi.”

Lalu dari sana Jemi menjawab: Muuaah. Tapi di rumahnya Ayi bisa membayangkan bahwa Jemi sedang mengarungi langit, menerjang gugusan awan, menuju ke kota impiannya di mana ia akan belajar musik, dan melanjutkan sekolahnya. Dan dia merasa ada sebelah hatinya yang ikut terbang bersama Jemi.

Selang beberapa hari kemudian email Jemi datang. Dia sudah tiba di Paris. Ayi tidak berminat membalasnya. “Jemi hanya salah seorang …..” pikirnya. Ia sendiri memang sangat sibuk dengan sekolah barunya sebuah SMU swasta.

Sempat ia membuat fesbuk. Hanya dua jam setelah itu, seseorang minta ditambahkan sebagai teman. Namanya, Jemi Lukmantauw. Ia konfirmasi. Tapi ia memang tak pernah menulis apa pun. Sementara itu email-email Jemi terus tetap berdatangan. Dan Ayi tak membalasnya sekalipun. “Jemi hanya salah seorang.” Ia ingat kata Mamahnya. ”Dan aku baru kelas satu SMA,” pikirnya waktu itu.

Dan selama setahun itu memang banyak yang telah terjadi. Jemi dikabarkan telah merekam sebuah album. Ia dikenal sebagai artis Indonesia yang sukses di negeri orang. Ia tak hanya menyanyikan, tapi juga mencipta lagunya sendiri dalam bahasa Inggris. Ayi tahu dari Ela, adiknya yang suka fesbuk-fesbukan dengan Jemi.

“Kak Jemi sudah jadi artis top,” kata Ela.

“Sebodo. EGP,” jawab Ayi. Ia ingat kata mamahnya, “Jemi hanya salah seorang. Dan aku baru baru kelas dua SMA.” Dan beberapa tahun kemudian ketika kelas tiga, ia sudah punya teman baru: Beben. Jago matematika. Yang kata Mamanya pun, hanya seorang Beben…. “Karena aku baru lulus SMA. Dan perjalananku masih panjang…..”

***

Kini Jemi yang ‘hanya seorang’ itu datang lagi, tanpa terduga. Dan mereka bertemu di sebuah mal. Tuhan yang merencanakan melalui Ela.

“Bagaimana dengan Bebenmu?” tiba-tiba Jemi memecah lamunan Ayi.

“He, jangan sok tau.”

“Aku tahu dari Ela. Dan karena ingin tahu siapa dia, maka aku add namanya di fesbukku. Jadi aku tahu profilnya. Hebat ya? Jago matematika, sudah dikirim ke Jepang.”

“Kami sudah berpisah secara baik-baik. Kamu senang ya?”

“Haha,….. sekarang kok kamu yang sensi?”

Ayi tersenyum tipis, “Bagaimana denganmu?”

“Aku masih mencintai kamu.”

“Jangan sotoy. Aku nggak mau dengar,” sergah Ayi kesal dan menutup kedua telinganya.

“Jadi kamu tolak cintaku?”

Ayi kesal. Dia mendelik dan mengangkat kepala.

“Please, sekarang cerita tentang kamu saja. Aku mau dengar ceritamu tentang single hitsmu yang terbaru, tentang tour showmu, tentang gadis-gadis pemujamu.”

Karena Jemi cuek saja, Ayi sejurus menghentikan kalimatnya. Dipandanginnya Jemi.
“Kok diam?”

Jemi cuma tersenyum-senyum.

Ayi langsung menutup laptopnya. Dan berdiri.

“Kalau begitu, aku mau jemput adikku,” katanya sambil melirik arlojinya, dan mencoba bergegas meninggalkan cowok bernama Jemi itu.

Jemi langsung meraih tangannya.

“Eh, kamu tidak kangen?”

Ayi masih berdiri, dan melihat tangannya yang dipegang Jemi.

“Apa-apaan neh? Nggak takut penggemarmu cemburu?”

Jemi lekas melepaskannya.

“Apa kamu tidak kangen?” Diulangi lagi kata-kata itu.

Ayi duduk dengan kesal. Dia menatap mata belo Jemi. Rambut yang acak-acakan. Tapi yang terbayang: kalimat-kalimat dalam puisi-puisinya, Jemi latihan band, Jemi membetot bass gitar dan Jemi sedang menyanyi. Juga lukisan di studio dan email-emailnya yang sebenarnya dibaca tapi tak pernah dijawabnya. Hm. Dia tidak mungkin membodohi dirinya sendiri. Dia menghela napas.

“Oke Jem, asal kamu tahu, ya, aku juga tidak pernah menyesal berkenalan denganmu. Kalau selama ini aku memang menghindar, itu karena aku takut kehilangan kamu. Aku takut patah hati.” Sambil berkata begitu, tiba-tiba Ayi ingin menangis. “Aku masih menyimpan puisimu.”

“Aku malah menyimpan hatimu,” sambung Jemi berbisik. Dia memegang tangan Ayi. “Kita akan jadi sahabat yang baik, yang mesra dan yang saling mencintai.”

Ayi menunduk. Lalu diteguknya ice chocolate late-nya.***

Gading Serpong, 21 Juni 2009

(DIMUAT SEBAGAI CERITA UTAMA MAJALAH REMAJA STORY EDISI PERDANA 25 JUNI 2009)